(La Yasy'urun, La Ya'lamun)
Halimi Zuhdy
Menarik kalau kita cermati dalam kehidupan kita sehari-hari, entah itu terjadi pada diri kita atau pada orang lain. Ada orang yang "sok tahu", "sok pinter" dan "sok benar" atau mungkin kita sendiri yang sok, tapi kita tidak menyadarinya. Kadang sudah jelas-jelas salah, masih saja marah-marah dan ngotot. Seperti kejadian tadi pagi yang saya alami, sepeda motor terkena senggol mobil yang saya kendarai, posisinya berada di sebelah kiri mobil, berjalan dengan kecepatan luar biasa, sudah tahu tidak boleh nyalip sebelah kiri, eh masih ngotot dan merasa benar. Eh, turun marah-marah. Wkwkwwk
Ada juga, laut jelas-jelas milik negara, eh dibuat sertifikat hal milik pribadi. Entah yang salah negara yang memberi izin, atau oligarki yang punya uang dan yang punya kuasa, ngotot. Embuh, bingung juga. Memang benar, kalau orang selalu merasa benar dan tidak pernah merasa bersalah, akan menjadikan ia sombong, kalau sudah sombong, biasa suka marah-marah. Mengapa marah-marah, karena orang lain dianggap rendah.
Dan banyak sekali contoh terkait dengan salah-menyalahkan, yang ternyata dirinya yang salah. Maka penting sekali untuk terus evaluasi diri, bukan sering-sering dan sedikit-sedikit evaluasi orang lain. Kayak lembaga survei dan lembaga evaluasi saja.kwkwwk.
Mari kita lihat dan baca dengan pelan-pelan dua Ayat berikut; Al-Baqarah, Ayat 11-12 dan Ayat 13. Bahwa dalam kehidupan ini, sering kali manusia merasa bahwa mereka sedang berjalan di jalur yang benar, tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang melakukan kesalahan. Mereka merasa menjadi pembangun, padahal tanpa sadar mereka adalah perusak. Inilah realitas yang Allah gambarkan dalam Al-Qur'an:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ١١ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِن لَّا يَشْعُرُونَ ١٢
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan.'
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya." (QS. Al-Baqarah: 11-12)
Perhatikan bagaimana Allah menggunakan kata لَّا يَشْعُرُونَ (lā yash‘urūn) yang berarti "mereka tidak menyadari" dalam ayat ini. Ini menunjukkan bahwa mereka melakukan kerusakan tanpa merasakan akibatnya. Kerusakan yang mereka buat bukan sesuatu yang mereka pahami secara langsung, tetapi mereka melakukannya dengan anggapan bahwa itu adalah perbaikan.
Namun, ada kelompok lain yang meskipun mereka telah diberi peringatan dan ajakan untuk beriman, mereka tetap terjebak dalam kebodohan mereka sendiri. Allah melanjutkan dalam ayat lain:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِن لَّا يَعْلَمُونَ ١٣
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman.' Mereka menjawab, 'Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman?' Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 13)
Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata لَّا يَعْلَمُونَ (lā ya‘lamūn) yang berarti "mereka tidak mengetahui." Ini bukan sekadar ketidaksadaran, melainkan kebodohan dalam memahami hakikat iman yang sebenarnya. Mereka menganggap diri mereka lebih cerdas daripada orang-orang beriman, padahal justru merekalah yang terjebak dalam kebodohan mereka sendiri.
Dari sini kita bisa melihat bahwa ada dua jenis kesalahan yang sering terjadi (1) Kesalahan yang dilakukan tanpa disadari (لَّا يَشْعُرُونَ), seperti orang yang merasa dirinya sedang memperbaiki, tetapi sebenarnya merusak. (2) Kesalahan karena ketidaktahuan (لَّا يَعْلَمُونَ), yaitu mereka yang menolak kebenaran karena merasa lebih tahu, padahal mereka tidak memiliki pemahaman yang benar.
Kedua kondisi ini bisa menimpa siapa saja dalam kehidupan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu melakukan introspeksi dan mencari ilmu agar tidak terjebak dalam kebodohan dan kesalahan tanpa kita sadari. Semoga Allah memberikan kita hati yang peka terhadap kebenaran dan ilmu yang bermanfaat. Aamiin.
Allahu'alam bishawab
Malang, 15 Feb 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar