"Membangun Kampus Islam yang Berkarakter: Meneladani Sifat Tuhan"
Catatan ringan ini saya jahit dari untaian Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar dalam Halaqah di UIN Malang, beliau menekankan pentingnya profesionalisme dalam menjalankan tugas di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Menurutnya, profesionalisme bukan hanya sekadar tuntutan administratif, tetapi juga bagian dari amanah besar dalam menghadapi tantangan zaman.
Sebagai institusi pendidikan Islam, kampus-kampus di bawah Kementerian Agama (Kemenag) harus memiliki visi yang jelas. Prof. Nasaruddin mengingatkan bahwa Tuhan sendiri memiliki blueprint dalam menciptakan alam semesta. Maka, manusia yang diberi akal tidak boleh hidup tanpa tujuan yang jelas.
"Kita tidak bisa hanya berjalan tanpa arah, sementara Tuhan telah menetapkan sistem yang begitu sempurna dalam penciptaan-Nya," ujar beliau.
Dalam konteks ini, setiap perguruan tinggi Islam harus menata langkahnya dengan jelas, bukan sekadar mengejar predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), membangun gedung megah, atau meraih peringkat dunia. Lebih dari itu, keberhasilan sejati diukur dari seberapa besar manfaat kampus bagi masyarakat.
"Kampus Islam harus benar-benar hadir untuk umat, bukan hanya eksis dalam angka dan statistik," tambahnya.
Salah satu hal yang menjadi tantangan besar bagi kampus Islam adalah menghindari jebakan formalitas. Kampus tidak boleh hanya menjadi institusi administratif, tetapi harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.
"Sebesar apa pun anggaran yang dihabiskan, jika tidak menghasilkan moral yang baik, maka itu tidak berhasil," tegas Prof. Nasaruddin.
Di sinilah pentingnya identitas Islam dalam Universitas Islam Negeri (UIN). Huruf “I” dalam UIN bukan hanya simbol, tetapi juga tanggung jawab besar. Mahasiswa yang dihasilkan harus memiliki kecerdasan akademik sekaligus akhlak seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim, sosok yang dikenal karena kesalehan dan perjuangannya dalam membangun masyarakat.
Dalam aspek keilmuan, Prof. Nasaruddin mengingatkan bahwa integrasi ilmu tidak boleh hanya sekadar "ayatisasi sains"—yakni hanya menempelkan ayat-ayat Alquran pada teori sains.
"Mari kita ciptakan konsep integrasi keilmuan yang sejati. Bukan sekadar mengutip ayat, tetapi bagaimana nilai ketuhanan bisa benar-benar hadir dalam setiap disiplin ilmu," katanya.
Konsep ini menuntut pendekatan yang lebih filosofis dan mendalam, di mana ketuhanan bukan sekadar ornamen, tetapi menjadi ruh dalam setiap kajian ilmu.
Sebagai bagian dari Islam yang rahmatan lil ‘alamin, perguruan tinggi Islam juga perlu memahami konsep keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Konsep ini dikenal dengan eco-theology, yang mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan harus dikelola berdasarkan nilai-nilai spiritual dan etika Islam.
Jika keseimbangan ini diterapkan, kampus Islam tidak hanya akan melahirkan ilmuwan yang unggul, tetapi juga pemimpin yang berakhlak dan peduli terhadap kemanusiaan serta lingkungan.
Dan, selanjutnya saya mencatata beberapa hal penting dari uraian beliau. Apa gunanya seseorang menjadi pintar dan berilmu, tetapi tidak Arif Billah (mengenal Tuhannya)? Jika perguruan tinggi Islam hanya mencetak orang cerdas dalam sains tanpa membawa mereka lebih dekat kepada Allah, maka apa bedanya dengan universitas umum?
Inilah yang ditekankan oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. UIN Malang dan kampus Islam lainnya bukan sekadar tempat belajar ilmu dunia, tetapi juga ruang untuk menemukan Tuhan dalam setiap disiplin ilmu.
Kata beliau, "Mari kita bayangkan Ibnu Rusyd—di pagi hari ia adalah dokter spesialis, siang hari seorang filsuf, sore seorang qadhi (hakim), dan malamnya seorang sufi. Ilmu tidak membuatnya jauh dari Allah, justru semakin mendekatkannya."
Maka, kebanggaan kampus bukanlah gedung megah atau laboratorium lengkap, tetapi sejauh mana ia melahirkan insan yang alim sekaligus arif billah—orang yang tidak hanya tahu banyak, tetapi juga bijak dan dekat dengan Allah.
Jika ada orang ahli agama tetapi mengajarkan kebencian, maka ia bukanlah ahli agama, melainkan tukang benci. Karena agama adalah cinta. Allah itu Rahman dan Rahim, yang berasal dari kata rahim—tempat kehidupan bermula, yang penuh dengan kasih sayang. Dunia ini indah karena cinta. Maka, di kampus Islam, ilmu yang diajarkan pun harus bersumber dari cinta—bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga membangun karakter penuh kasih.
Orang yang masih sibuk menyalahkan orang lain berarti belum selesai belajar. Orang arif tidak mencari kambing hitam atau putih, tetapi selalu mencari dirinya sendiri, mengoreksi, dan memperbaiki diri.
Dan di UIN Malang, harapannya bukan hanya melahirkan orang yang alim, tetapi juga orang yang arif billah—yang mengenal dan mencintai Tuhannya melalui setiap ilmu yang dipelajarinya.
Allahu'alam bisshawab
Halimi Zuhdy
Precet, 10 Februari 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar