
kusulam sajak ini, untukmu
hai! pecandu rindu dari kalbu
yang tergugah.
kurajut sajak ini, untukmu
hai! zeonis cinta yang harap debar kedamaian.
di sana, terlihat konspirasi-konspirasi
kemunafikan, keangkuhan, kedholiman, ketidak pastian
kurangkai sajak ini, untukmu
hai! Penyamun kekuasaan, yang tak lelah
melahap kemurkaan. Opera-opera berhenti
di penghujung ketidakjelasan. Sarung-sarung
melorot, jilbab-jilbab tergantung di pojok-pojok
kota, kesucian robek mengerang.
kutitipkan sajak ini, padamu
agar tak beku, punah, hancur, lusuh,
ditelan waktu.
bacalah! dengan riak-riak
rasa. dengan tetesan linangan mata.
tapi jangan sampai terbakar
dilahap bara.
Malang, 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar