السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة
YA RABB BERILAH CINTAMU, WALAU SETETES BIARKANLAH : HATI, PIKIRAN, TUBUH KITA SELALU MENDEKAT PADA-NYA

Facebook Halimi Zuhdy

Sabtu, 22 Maret 2025

Kekuatan Doa dalam Ayat Puasa: Dekatnya Allah dengan Hamba-Nya #10


Halimi Zuhdy

Di tengah rangkaian Ayat tentang puasa dalam Surah Al-Baqarah, ada satu Ayat yang begitu istimewa tentang kekuatan doa.   


Ayat ini hadir di antara penjelasan tentang kewajiban puasa, seolah memberikan pesan mendalam bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah. Ada beberapa hal menarik dari struktur bahasa dalam ayat ini yang mengungkap makna lebih dalam tentang doa. Mari kita ulas Ayat tersebut:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُوا۟ لِى وَلۡيُؤۡمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ  

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)  

Allah Dekat, Tanpa Perantara

Ayat ini diawali dengan pertanyaan, "Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku..." Uniknya, dalam ayat ini Allah langsung menjawab sendiri tanpa menggunakan ungkapan "Katakanlah (qul)", sebagaimana biasa terjadi dalam Ayat-ayat lain yang berisi pertanyaan dari manusia. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara Allah dan hamba-Nya bersifat langsung—tanpa perlu perantara. Allah tidak jauh; Dia dekat dengan setiap doa yang dipanjatkan.  
Doa yang Didahulukan dari Pemohon
  
Dalam kalimat "أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ", kata دعوة (doa) lebih dahulu disebut sebelum الداع (orang yang berdoa). Susunan ini menegaskan bahwa Allah melihat isi doa itu sendiri, bukan siapa yang memanjatkannya. Artinya, siapa pun yang berdoa—baik orang saleh, pendosa, tertindas, atau bahkan orang yang belum beriman—doanya tetap memiliki kemungkinan dikabulkan oleh Allah. Rahmat-Nya begitu luas, tidak terbatas pada siapa yang meminta, tetapi pada ketulusan dalam memohon.  

Mengapa Menggunakan "Idza" Bukan "In"?

Satu lagi keindahan bahasa dalam ayat ini terletak pada penggunaan kata إِذَا (idza), bukan إِن (in). Dalam kaidah bahasa Arab, idza menunjukkan sesuatu yang sering terjadi, sedangkan "in" digunakan untuk sesuatu yang jarang atau bahkan mustahil terjadi. Pemilihan "idza" menunjukkan bahwa doa adalah aktivitas yang harus dilakukan berulang kali, terus-menerus, bukan hanya ketika dalam kesulitan. Ini selaras dengan hadis Rasulullah:  

"Barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya." (HR. Tirmidzi)  

Jawaban Allah Didahulukan dari Syaratnya
Menariknya, dalam ayat ini, jawaban Allah atas doa didahulukan:  
"أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ"
"Aku kabulkan doa orang yang berdoa"

sebelum syaratnya disebutkan, yaitu:  

"إِذَا دَعَانِ" 
"apabila ia berdoa kepada-Ku"

Ini menjadi isyarat betapa cepatnya Allah dalam mengabulkan doa, seakan-akan ijabah-Nya mendahului permintaan hamba.  

Tak hanya itu, kata الداعِ (orang yang berdoa) dalam bentuk tunggal juga memberi pesan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk dikabulkan doanya. Tidak perlu menunggu banyak orang berdoa bersama; bahkan satu orang yang bersungguh-sungguh berdoa sudah cukup untuk mendapatkan perhatian Allah.  

Momentum Ramadhan: Menjadikan Doa sebagai Rutinitas
  
Ayat ini mengingatkan kita bahwa doa bukan sekadar ritual pelengkap, tetapi bagian inti dari keimanan. Ramadhan adalah momen terbaik untuk kembali memperkuat hubungan dengan Allah melalui doa, bukan hanya saat berbuka, tetapi sepanjang hari. Kita tidak pernah tahu doa mana yang akan dikabulkan lebih cepat, doa siapa yang akan membawa keberkahan bagi dunia. Maka, jadikanlah doa sebagai kebiasaan, bukan sekadar pelarian saat terdesak. Sebab, Allah telah berjanji dalam ayat ini: siapa yang berdoa dengan penuh keyakinan, maka Allah akan mengabulkannya.  

Wallahul Musta'an wailahittuklan

Ketika Media Sosial Bertemu Ramadan: Dakwah atau Ajang Pamer? #9


Halimi Zuhdy

"Gak usah pamer foto tarawih Mas" kata Samsul pada Ali yang berada di sebelahnya, sebelum Ali shalat tarawih. 

"Ia terima kasih Tadz, telah diingatkan, sebenarnya saya hanya mengajak teman-teman akrab saya untuk berada di sini (masjid). Saya biasa nongkrong di Cafe, agar teman-teman juga bisa nongkrong di masjid, maka saya buat status, mungkin bagian sari syiar saya" jawab Ali dengan tenang. 
Ramadan dan media sosial kembali dipenuhi dengan unggahan ibadah. Foto sahur dan buka puasa, video tadarus Al-Qur’an, potret tarawih di masjid, hingga live streaming sedekah berjamaah berseliweran di berbagai platform digital. Sebagian beranggapan ini adalah bentuk dakwah modern, mengajak lebih banyak orang untuk ikut dalam kebaikan. Namun, tak sedikit yang melihatnya sebagai ajang pamer ibadah. Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi fenomena ini?  

Antara Syiar (dakwah) dan Riya’ (pamer)
Media sosial memang bisa menjadi alat syiar yang luar biasa. Dengan satu unggahan inspiratif, ribuan bahkan jutaan orang bisa termotivasi untuk beribadah. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya." (HR. Muslim)  

Unggahan yang membangun semangat ibadah dapat menjadi ladang pahala jika niatnya benar. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat menggoda seseorang untuk pamer amal. Riya’ (menunjukkan amal dengan tujuan mendapat pujian) adalah penyakit hati yang berbahaya. Rasulullah SAW memperingatkan: "Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, 'Apakah itu wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Riya'.'" (HR. Ahmad)  

Imam Al-Ghazali dalam "Ihya’ Ulumuddin" menjelaskan bahwa riya’ dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk dalam memperlihatkan ibadah dengan niat memperoleh sanjungan. Jika unggahan ibadah lebih bertujuan untuk mendapat pujian dan like, maka kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah kita beribadah untuk Allah atau untuk followers?  

Bijak Menggunakan Media Sosial di Bulan Ramadan 
Islam tidak melarang seseorang berbagi kebaikan, tetapi niat dan caranya harus benar. Berikut beberapa sikap bijak dalam menggunakan media sosial selama Ramadan:  

Tanyakan Niat Sebelum Mengunggah

Sebelum membagikan ibadah di media sosial, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini untuk menginspirasi orang lain, atau hanya ingin dilihat sebagai sosok religius? Jika niatnya tidak murni karena Allah, lebih baik ditahan.  

Fokus pada Konten yang Mendidik

Daripada mengunggah foto diri sedang berdoa, lebih baik berbagi ilmu, tafsir ayat, atau hadis-hadis yang relevan dengan Ramadan. Seperti kata Imam Syafi’i:  "Ilmu itu yang bermanfaat, bukan yang hanya dihafal."  

Jangan Sampai Lupa Esensi Ramadan

Ramadan adalah bulan introspeksi diri, bukan bulan pencitraan. Sibuk membuat konten ibadah jangan sampai membuat kita lupa menjalankan ibadah itu sendiri dengan khusyuk.  

Hindari Berlebihan dalam Pamer Sedekah

Sedekah terbaik adalah yang tidak diketahui orang lain. Rasulullah SAW  bersabda: "Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat... salah satunya adalah seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya." (HR. Bukhari & Muslim)  

Jika berbagi inspirasi tentang sedekah, lebih baik lakukan tanpa menampilkan wajah penerima atau menunjukkan jumlah donasi. Media sosial bisa menjadi sarana dakwah yang efektif jika digunakan dengan niat yang benar dan cara yang tepat. Namun, jika tidak hati-hati, justru bisa menjadi pintu riya’ yang menghilangkan pahala ibadah kita. Ramadan bukan tentang siapa yang paling terlihat beribadah, tetapi tentang siapa yang paling tulus dalam mendekatkan diri kepada Allah.  Mari jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk memperbaiki niat, memurnikan ibadah, dan menggunakan media sosial dengan bijak—bukan untuk pamer, tetapi untuk menginspirasi dan berbagi manfaat.  

_Wallahul Musta'an Wailaihittuklan_

Ramadan, Madrasah Kubro antara Gagal dan Lulus dalam Meraih Predikat Taqwa #8


Halimi Zuhdy

Setiap tahun, Ramadan hadir sebagai Madrasah Kubro—sekolah besar yang mendidik jiwa, melatih kesabaran, dan menguji keimanan. Di dalamnya, umat Islam tidak sekadar menjalankan ibadah puasa, tetapi juga menjalani serangkaian latihan spiritual yang bertujuan menumbuhkan ketakwaan. Namun, seperti halnya sekolah, tidak semua peserta didik berhasil lulus dengan predikat memuaskan. Ada yang meraih "ijazah" ketakwaan, ada pula yang gagal dalam ujian ini.  
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:  "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183). Menariknya, dalam Ayat ini, sebelum kata Tattaqun (تتقون) (agar kalian bertakwa), Allah mendahuluinya dengan La'allah (لعل)—yang dalam bahasa Arab mengandung makna harapan, bukan kepastian. Artinya, tidak ada jaminan bahwa siapa pun yang menjalankan puasa selama sebulan penuh pasti akan menjadi orang yang bertakwa. Puasa bisa berhasil, bisa juga gagal. Demikian juga dengan kuliah di kampus yang ditempuh seorang mahasiswa, bisa berhasil dengan mendapatkan gelar dan ijazah, ada yang gagal. 

Tanda-tanda Kesuksesan Ramadan
  
Lalu, bagaimana cara menilai apakah seseorang telah berhasil dalam madrasah Ramadan? Ali bin Abi Thalib memberikan empat indikator utama ketakwaan:  1) Al-khauf min Al-Jalil (takut kepada Allah yang Maha Agung).  Ramadan yang sukses seharusnya menjadikan seseorang lebih sadar akan pengawasan Allah, lebih berhati-hati dalam bertindak, dan menjauhi segala yang diharamkan-Nya.  2) Al-amal bittanzil – Mengamalkan wahyu dalam kehidupan sehari-hari. Ketakwaan tidak berhenti di masjid atau di atas sajadah. Ia tercermin dalam bagaimana seseorang menjalankan ajaran Al-Qur’an dalam pekerjaan, hubungan sosial, dan kehidupan bermasyarakat.  

Berikutnya adalah Ar-Ridha bil qalil– Merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Puasa mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang memiliki banyak, tetapi tentang mensyukuri apa yang ada. Orang yang bertakwa akan semakin sederhana, tidak rakus, dan tidak tamak terhadap dunia.  4). Al-isti'dad qabla al-rajil– Selalu bersiap menghadapi kematian dan kehidupan akhirat.  Ramadan mengingatkan kita bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Orang yang berhasil dalam madrasah Ramadan akan semakin sadar bahwa kehidupan sejati ada di akhirat, sehingga ia lebih mempersiapkan diri dengan amal saleh.  

Antara Lulus dan Gagal dari Madrasah
 
Setelah Ramadan berlalu, ada yang membawa perubahan nyata dalam hidupnya—lebih dekat kepada Allah, lebih jujur, lebih disiplin dalam ibadah, dan lebih peduli terhadap sesama. Mereka inilah yang lulus dan mendapatkan "ijazah" ketakwaan. Namun, ada pula yang kembali kepada kebiasaan lama—shalat mulai lalai, bacaan Al-Qur’an berhenti, maksiat kembali dilakukan. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum perubahan hanya menjadi rutinitas tahunan yang berlalu tanpa makna. Mereka inilah yang gagal dalam ujian Ramadan.  

Menjadikan Ramadan sebagai Titik Balik
  
Bila Madrasah Ramadan telah usai, tetapi ujian sesungguhnya baru dimulai. Jika setelah Ramadan kita semakin takut kepada Allah, lebih teguh menjalankan perintah-Nya, lebih bersyukur, dan lebih sadar akan akhirat, maka kita telah berhasil. Namun, jika tidak ada perubahan dalam diri kita, berarti kita hanya sekadar berpuasa tanpa meraih esensinya.  Maka, mari jadikan Ramadan sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bertakwa. Sebab, keberhasilan Ramadan tidak diukur dari berapa lama kita menahan lapar dan dahaga, tetapi dari sejauh mana kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya. 

_Wallahu a‘lam Bisshawab._

Jumat, 07 Maret 2025

Ramadan: Tajdid (Memulihkan) Jasmani dan Rohani #7


_Halimi Zuhdy_

Ramadan itu asyik. Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut bulan Ramadan dengan penuh kegembiraan. Bukan sekadar bulan ibadah, Ramadan juga menjadi momentum penyembuhan—baik secara fisik maupun spiritual. Pernah ingat ucapan kembali ke Fitri? Lah, Ramadan itu adalah memontum untuk itu. Puasa yang dijalankan selama sebulan penuh bukan hanya melatih kesabaran dan ketakwaan, tetapi juga berperan besar dalam meregenerasi sel-sel tubuh serta membersihkan jiwa dari berbagai penyakit hati. Asyikkan? 
Syekh Al-Manafi, menyinggung tentang Sabda Rasulullah SAW:   "Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat."(HR. Thabrani). Walau derajad hadis ini dhaif, dan beberapa pendapat lainnya. Tapi, kita melihat beberapa hal tentang manfaat puasa, terutama puasa di Bulan Ramadan. 

Kalau kita tilik lebih dapat dan beberapa maraji' (refrensi). Puasa tidak hanya berbicara tentang kesehatan jasmani, tetapi juga kesehatan ruhani. Ilmu pengetahuan modern semakin membuktikan bahwa puasa memberikan manfaat luar biasa bagi tubuh, termasuk dalam proses regenerasi sel dan detoksifikasi.  

Puasa dan Regenerasi Sel (Tajdid khalaya jasadiyah)

Dari berbagai sumber, puasa secara medis, terbukti mampu memperbaiki sel-sel yang rusak melalui mekanisme yang disebut autofagi (الالتهام الذاتي). Autofagi adalah proses alami di mana tubuh mendaur ulang sel-sel yang telah rusak atau tua, kemudian menggantinya dengan sel yang lebih sehat. Penemuan tentang autofagi ini bahkan mengantarkan Yoshinori Ohsumi, seorang ilmuwan Jepang, meraih Nobel di bidang kedokteran pada tahun 2016.  

Selama puasa, tubuh memasuki kondisi metabolisme yang berbeda dari biasanya. Ketika tidak ada asupan makanan selama beberapa jam, tubuh mulai menggunakan cadangan energi dan membersihkan komponen sel yang sudah tidak berfungsi. Proses ini membantu mencegah berbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes, Alzheimer, dan kanker.  

Selain itu, puasa juga membantu mengurangi peradangan dalam tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa intermiten dapat menurunkan kadar sitokin pro-inflamasi (السيتوكينات الالهابية), yaitu zat yang berperan dalam peradangan kronis. Dengan kata lain, puasa memberikan kesempatan bagi tubuh untuk "beristirahat ('iadatu tasyghil)" dan memperbaiki dirinya sendiri.  

Ramadaan dan Penyembuhan Spiritual (al-Tajdid Al-ruhi)

Tidak hanya jasmani yang mendapatkan manfaat, tetapi juga ruhani. Ramadhan adalah bulan refleksi, di mana manusia diajak untuk menata kembali kehidupannya, mendekatkan diri kepada Allah, serta membersihkan hati dari penyakit seperti iri, dengki, dan kesombongan.  

Secara psikologis, puasa membantu meningkatkan kontrol diri dan kecerdasan emosional. Menahan lapar dan dahaga melatih kesabaran serta kemampuan untuk menunda kepuasan (delayed gratification). Dalam psikologi modern, kemampuan ini sangat berkaitan dengan kesuksesan seseorang dalam berbagai aspek kehidupan, seperti studi Marshmallow Test yang dilakukan oleh psikolog Walter Mischel.  

Selain itu, puasa juga menurunkan kadar hormon stres kortisol dan meningkatkan produksi endorfin (الاندورفين), hormon yang memberikan perasaan bahagia. Inilah mengapa setelah beberapa hari berpuasa, seseorang akan merasakan ketenangan batin yang luar biasa.  

Dalam konteks spiritual, Ramadan adalah kesempatan emas untuk melakukan perbaikan diri. Rasulullah SAW bersabda:  

من صام رمضان إيمانًا واحتسابًا غُفر له ما تقدم من ذنبه" (رواه البخاري ومسلم).

"Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari dan Muslim).  

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan tercela. Inilah bentuk regenerasi ruhani, di mana manusia diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki hubungan dengan sesama.  

Jika dianalisis dari dua perspektif, Ramadhan adalah bulan penyembuhan total: secara fisik, ia membantu memperbaiki sel dan mengurangi risiko penyakit; secara spiritual, ia menjadi ajang introspeksi dan peningkatan kualitas diri.  

Setiap detik dalam bulan ini adalah kesempatan untuk membersihkan tubuh dan jiwa. Maka, jangan sia-siakan Ramadhan hanya dengan rutinitas tanpa makna. Jadikanlah puasa sebagai momentum untuk memperbaiki diri, baik dalam aspek kesehatan maupun keimanan.  Semoga Ramadan kita menjadi moment paling indah dalam kehidupan kita, untuk memperbaiki diri, baik secara jasadi dan ruhani. 

Wallahu a’lam.

Malang, 7 Maret 2025. 7 Ramadan 1456 H

Mengungkap Makna Ramadan dan Keutamaannya


(Perspektif Bahasa dan Budaya) #6

Halimi Zuhdy

Umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, bulan kesembilan dalam kalender Hijriah. Bulan ini memiliki keistimewaan di antara bulan-bulan lainnya karena merupakan waktu ibadah yang menjadi salah satu rukun Islam. Selain itu, bulan Ramadan memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah dan tradisi umat Islam, karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang digambarkan dalam Al-Qur'an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.  
Namun, dari manakah asal penamaan bulan suci ini? Perlu diketahui bahwa nama Ramadan sudah ada sebelum Islam, dan bulan ini juga pernah disebut sebagai Natiq. Selain itu, praktik berpuasa telah dikenal dalam agama-agama terdahulu, meskipun tidak dikaitkan secara khusus dengan bulan Ramadan.  
  
Menurut Ammar Yahya, editor bahasa di situs Al Jazeera, akar kata ر م ض (R-M-Dh) dalam bahasa Arab mengacu pada makna sesuatu yang sangat panas, baik dalam konteks suhu maupun lainnya. Dalam penjelasannya, الرَّمَضُ berarti panas yang menyengat. Dari akar kata ini juga berasal istilah رمضاء, yang merujuk pada panas yang disebabkan oleh matahari pada batu atau pasir. Di masa lalu, panas ini dimanfaatkan oleh orang-orang Arab untuk berburu kijang. Mereka akan mengejar kijang di siang hari hingga kelelahan akibat panasnya, lalu menangkapnya dengan mudah. Teknik berburu ini disebut التّرمُّض. Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Shalat awwabin dilakukan ketika anak unta merasakan panas (ramidat) dan duduk karena terik matahari". (HR. Muslim)  

Lalu, apa hubungan antara Ramadan dan panasnya cuaca? Beberapa ulama berpendapat bahwa kata "Ramadan" berasal dari musim panas yang sangat terik, yang terjadi saat bulan ini pertama kali dinamai oleh bangsa Arab. Sebagian lainnya berpendapat bahwa nama ini berasal dari efek berpuasa itu sendiri, yang membuat seseorang merasa panas karena haus dan lapar.  

Asal Penamaan Bulan Ramadan
 
Dalam tradisi Arab kuno, nama-nama bulan Hijriah diberikan berdasarkan kondisi musim saat itu. Misalnya, bulan Rabiul Awal dinamai demikian karena bertepatan dengan musim semi (Rabi’). Sementara itu, bulan Ramadan jatuh pada musim panas yang menyengat (Ramad), sehingga dinamakan Ramadan.  

Selain itu, orang Arab juga sering menggambarkan perasaan dengan istilah fisik yang nyata. Misalnya, perasaan sangat marah digambarkan sebagai الرَّمَض, seperti panas yang membakar dari dalam. Mereka juga menggunakan kata ini untuk menunjukkan sesuatu yang tajam, seperti pisau yang sangat tajam disebut سكين رميض (pisau yang tajam).  

Menurut Abu Bakar bin Duraid (w. 933 M), seorang ahli bahasa Arab, ketika nama-nama bulan Hijriah diubah dari bahasa Arab kuno, mereka menyesuaikannya dengan kondisi alam saat itu. Bulan Ramadan bertepatan dengan musim panas yang sangat panas, sehingga dinamakan demikian.  

Beberapa riwayat juga menyebutkan bahwa bulan ini dinamakan "Ramadan" karena orang-orang Arab kuno biasa mengasah senjata mereka di bulan ini sebagai persiapan untuk berperang di bulan Syawal, sebelum datangnya bulan-bulan haram (bulan yang dilarang untuk berperang). Selain itu, beberapa ulama seperti Al-Mawardi dan Az-Zamakhsyari menyebut bahwa nama lama Ramadan adalah "Natiq", karena bulan ini membuat orang merasa terganggu dan lelah akibat cuaca panas serta kewajiban berpuasa.  

Pendapat Beragam tentang Asal Usul Ramadan.  Dalam bukunya Mu’jam Ramadan, akademisi Mesir Fuad Mursi (1925–1990) mengumpulkan berbagai pendapat mengenai asal nama Ramadan. Ia menyebutkan tiga kemungkinan utama:  
1). Ramadan adalah salah satu nama Allah– Pendapat ini berasal dari hadis Abu Ma’syar, tetapi hadis tersebut dianggap lemah oleh sebagian besar ulama. Oleh karena itu, pendapat ini tidak kuat. 2). Ramadan berasal dari kata yang berarti hujan di akhir musim panas dan awal musim gugur – Pendapat ini menyatakan bahwa Ramadan dinamakan demikian karena hujan yang datang di musim itu mendinginkan panasnya bumi. 3). Ramadan berasal dari kata "Ramadh" yang berarti panas menyengat – Pendapat ini paling umum diterima karena bulan ini awalnya dinamai berdasarkan musim panas yang terik.  

Dalam kajian sejarah, Mahmoud Hamdi Al-Falaki (1815–1885), seorang ilmuwan Mesir, menyebutkan bahwa orang Mekah kuno menggunakan kalender lunar murni dalam 50 tahun terakhir sebelum hijrah. Namun, mereka juga menyesuaikan kalender ini secara fleksibel untuk kepentingan perang, sehingga mereka bisa mengubah aturan bulan haram sesuai kebutuhan mereka. Islam kemudian melarang praktik ini dalam ayat tentang "nasīʾ" (penundaan bulan haram).  

Nama Ramadan sudah ada sebelum Islam dan terkait dengan kondisi alam saat itu. Kata "Ramadan" berasal dari akar kata yang bermakna panas menyengat, yang sesuai dengan kondisi musim di mana bulan ini pertama kali dinamai. Meskipun demikian, makna Ramadan dalam Islam bukan sekadar musim panas, tetapi sebagai bulan penuh ampunan, keberkahan, dan kesempatan untuk meraih ridha Allah. Semoga Ramadhan kita menjadi yang terbaik di bulan ini, dan dosa-dosa kita dibakar (dihapus) sebagaimana namanya, Ramda'. Amin.

Puasa: Benteng Diri dari Perceraian, Konsumerisme, dan Pengaruh Negatif Media Sosial

 (Telaah Arti Imsak)_ #5

Halimi Zuhdy

Puasa itu menunda. Bukan melarang yang dihalalkan. Ditunda, ketika waktunya sudah tepat dan tiba. Diantara kunci sukses adalah menunda kepuasan. Ketika seseorang berpuasa, ia menahan diri dari makan, minum, dan segala yang membatalkan. Ini bukan hanya sekadar aturan, tetapi pelatihan mengendalikan hawa nafsu. Dengan terbiasa menahan diri, manusia belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Dalam psikologi, ini disebut dengan delayed gratification (menunda kepuasan), yang merupakan kunci sukses dalam kehidupan. Ramadan mengajarkan manusia untuk tidak dikendalikan oleh dorongan instingtif semata, tetapi berpikir lebih rasional dan bijak dalam bertindak.
Mari kita lihat fenomena yang terjadi di Indonesia. Fenomena perceraian, komsumerisme, dan penggunaan media sosial. Misalnya, angka perceraian di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Statistik Indonesia 2023 mencatat lebih dari 516 ribu kasus perceraian pada tahun 2022, naik 15,31% dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu faktor penyebabnya adalah pengaruh media sosial yang sering kali menjadi pemicu konflik rumah tangga, baik karena perselingkuhan, komunikasi yang kurang sehat, maupun gaya hidup yang tidak terkendali.

Di sisi lain, fenomena konsumerisme juga semakin mengakar di masyarakat. Hasrat untuk membeli dan memiliki sesuatu kini tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada dorongan sosial yang diciptakan oleh media sosial. Banyak orang mengukur kebahagiaan dan status sosialnya dari apa yang mereka konsumsi, bukan dari nilai-nilai yang lebih mendalam.

Sementara itu, konsumsi media di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang tidak selalu sehat. Masyarakat menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton konten hiburan yang sering kali tidak memberikan manfaat jangka panjang. Hal ini berkontribusi pada menurunnya produktivitas dan meningkatnya kecenderungan perilaku konsumtif serta adiksi terhadap media digital.

Dalam menghadapi berbagai tantangan ini, Islam telah menawarkan solusi yang telah terbukti efektif secara spiritual dan psikologis: puasa. Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, puasa mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan kemampuan menahan godaan hawa nafsu. Inilah yang membuat puasa relevan sebagai benteng untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang kita hadapi saat ini.

Perceraian sering kali berakar dari ketidakmampuan pasangan dalam mengelola emosi dan komunikasi. Puasa melatih kesabaran dan menumbuhkan kesadaran spiritual yang lebih dalam, sehingga seseorang lebih mampu mengendalikan amarah dan ego dalam hubungan rumah tangga. Selain itu, puasa juga mengajarkan kesetiaan dan rasa syukur terhadap pasangan, dua hal yang sangat penting dalam menjaga keharmonisan keluarga.

Di tengah gempuran iklan dan tren gaya hidup yang ditampilkan di media sosial, puasa memberikan kesempatan bagi seseorang untuk berlatih menahan diri dari dorongan konsumtif. Saat berpuasa, seseorang tidak hanya menahan lapar tetapi juga menahan keinginan duniawi yang berlebihan. Ini menjadi latihan untuk lebih selektif dalam berbelanja, lebih menghargai apa yang sudah dimiliki, dan lebih memahami makna kesederhanaan.

Puasa juga bisa menjadi momen refleksi untuk membatasi penggunaan media sosial yang berlebihan. Dalam Islam, puasa bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang menjaga pikiran dan hati dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan menahan diri dari konsumsi media yang tidak sehat, seseorang dapat lebih fokus pada ibadah dan aktivitas yang lebih bermakna.

Membangun Pola Konsumsi Konten yang Lebih Sehat

Puasa juga dapat menjadi sarana untuk membiasakan diri mengonsumsi konten yang lebih positif dan produktif. Daripada menonton konten hiburan tanpa batas, bulan puasa bisa menjadi momentum untuk lebih banyak membaca, mendengarkan kajian keagamaan, dan melakukan aktivitas yang menambah wawasan serta keimanan.

Di era modern ini, di mana gaya hidup serba instan dan konsumtif semakin mengakar, puasa hadir sebagai solusi nyata untuk menekan berbagai dampak negatif tersebut. Puasa tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada ketahanan diri dalam menghadapi godaan duniawi, termasuk dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, mengendalikan keinginan konsumtif, serta membatasi pengaruh negatif media sosial.

Jika setiap individu mampu menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam puasa dengan baik, maka berbagai permasalahan sosial yang kita hadapi hari ini dapat diminimalisir. Puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi merupakan latihan spiritual yang, jika dijalankan dengan kesadaran penuh, dapat menjadi benteng kokoh dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.

Ringannya Berpuasa Bagi orang yang Beriman


(Analisis Al-Uslub al-Balāghī dalam Surat Al-Baqarah: 183) #4 

Halimi Zuhdy  

Puasa sering dianggap sebagai ibadah yang berat, baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Tidak semua orang menyambutnya dengan bahagia karena harus menahan lapar, dahaga, dan berbagai hal yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala puasa. Namun, Al-Qur’an, dengan keindahan balaghahnya, justru menghadirkan kewajiban puasa dengan cara yang terasa ringan dan penuh ketenangan.  
Allah SWT berfirman:   یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَیۡكُمُ ٱلصِّیَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ   

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)  

Dalam ayat ini, ada beberapa pilihan kata yang membuat kewajiban puasa terasa ringan secara psikologis. Pertama, penggunaan kata "kutiba" (كُتِبَ), yang berarti "diwajibkan", berasal dari akar kata "kataba" (كتب) yang berarti "menulis". Secara balaghah, penggunaan kata ini lebih lembut dibandingkan kata "wujiba (وُجِبَ), "furida" (فُرِضَ), atau "ulzima" (أُلْزِمَ) yang terasa lebih tegas dan berat. Penggunaan fi'il "madhi" "majhūl" (kata kerja lampau dalam bentuk pasif) dalam kata "kutiba" juga membuat ayat ini terdengar lebih menenangkan, seolah kewajiban itu telah ditetapkan dengan penuh kelembutan.  

Kedua, susunan ayat ini juga memberikan efek psikologis yang menarik. Kata "‘alaykum" (عَلَیۡكُم) didahulukan sebelum "as-shiyām" (الصِّیَام), sehingga pembaca atau pendengar merasa dipanggil secara langsung dengan penuh perhatian sebelum disebutkan perintah puasanya. Menurut pakar balaghah, seperti Yusuf Alyawi, susunan ini membuat kewajiban terasa lebih ringan.  

Ketiga, Ayat ""كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِینَ مِن قَبْلِكُم" ("sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu") menunjukkan bahwa puasa bukanlah beban yang hanya diberikan kepada umat Islam, tetapi juga kepada umat-umat sebelumnya. Hal ini menghilangkan perasaan berat, karena manusia cenderung merasa lebih ringan ketika mengetahui bahwa beban yang mereka pikul juga dipikul oleh orang lain.  

Terakhir, ayat ini ditutup dengan harapan yang menggembirakan: "لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ" ("agar kamu bertakwa"). Penggunaan kata "la‘alla" (لعل) yang bermakna harapan memberikan motivasi bahwa puasa bukanlah sekadar kewajiban, tetapi jalan menuju ketakwaan yang mulia. Ketika seseorang memiliki harapan akan manfaat besar dari suatu ibadah, maka pelaksanaannya akan terasa lebih ringan dan menyenangkan.  

Demikianlah keindahan uslūb balāghī dalam ayat ini. Al-Qur’an bukan hanya memberikan perintah, tetapi juga menyampaikan pesan dengan cara yang memudahkan dan menenangkan hati. Puasa, yang mungkin awalnya terasa berat, dalam perspektif Al-Qur’an menjadi ibadah yang ringan dan penuh berkah.  

Wallahu A‘lam.

Rabu, 05 Maret 2025

Ramadan, Bulan Terhebat Menuju Ampunan Allah

(Menelisik Asal Makna Maghfirah) #3

*Halimi Zuhdy* ✍️

"Masak sih, Allah akan mengampuni dosa-dosa yang akan datang?, Kalau dosa-dosa yang telah lalu itu wajar untuk diampuni, karena kita telah berbuat dosa kemudian Allah ampuni, tapi kalau belum dikerjakan, atau kita mengerjakan dosa-dosa besar apakah diampuni?" tanya seorang jamaah pengajian. 

Cuplikan pertanyaan di atas  yang memicu tulisan sederhana ini ditulis. Sebenarnya pertanyaan di atas juga sederhana, tidak butuh dalil, tinggal dijawab, "kalau Allah berkehendak, maka tidak ada dosa-dosa yang tidak diampuni olehNya, semua dosa, baik besar dan kecil dapat diampuni oleh Allah". Tetapi, bagaimana dengan redaksi hadis "wa ma ta'akhar" dosa-dosa yang akan datang?

Toyyib. Kita kaji dulu arti maghfirah (ampunan) secara  etimologi. Maghfirah berasal dari kata ghafara (غفر) yang bermakna tabir, selubung (الستر), penutup, tutup (التغطية). Kata mighfar (المغفر) bermakna penutup kepala, seperti songkok, atau helm yang sering digunakan dalam peperangan. Kata ghiffarah bermakna baju besi, sedangkan ghaffarah, adalah sejenis jubah paderi. 

Dari beberapa kata yang berhubungan dengan gha-fa- ra adalah bermakna tutup. Bagaimana dengan "maghfirah" dari Allah atau kata yang berakar dari ghafara? 

Terdapat beberapa istilah yang sering kita dengar; istighfar (memohon maghfirah), maghfirah (ampunan, tutup), gaffar (Maha Pengampun), maghfur lah (semoga diampuni, orang mati, ghafur (Maha Pengampun), ghafir (pengampun), ghufran (ampunan), ghafirah, dan beberapa kata lainnya. 

Kata Maghfirah adalah menutupi. Seperti doa "Allahummaf fir dzunubana", Ya Allah tutupilah dosa-dosa kami, atau sering diterjemah dengan ampunilah dosa-dosa kami. Apa yang dimaksud dengan Allah menutupi dalam kata ini?

Ada beberapa arti dari makna menutupi, yaitu menutupi keburukan atau kejelekan seseorang. Karena tidak ada manusia yang tidak punya cela, kejelekan atau keburukan, maka seseorang yang dapat maghfirah, adalah mereka yang ditutupi keburukannya. Atau juga menutupi dosa-dosa yang telah dilakukan seseorang. 

Betapa manusia dipenuhi keburukan, baik secara fisik atau dhahir. Kalau seandainya dibuka kulit yang menyelimuti tulang dan isi perut, maka akan tersingkap kotoran-kotoran fisik manusia. Belum lagi kotoran hati; iri, dengki, dan lainnya, yang seandainya dibuka, maka akan terlihat semua keburukannya. Belum lagi keburukan dari perilaku-perilaku manusia. Maghfirah min dzunub menutup dosa-dosa.

Dan selain makna menutupi, juga bermakna ampunan dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Maka, kata Istighfar adalah permohonan seseorang akan ampunan Allah atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Dan juga diartikan dengan permohonan ampun seorang hamba Allah setelah melihat keburukan dari kemaksiatan yang telah ia lakukan. Atau seseorang yang memohon ampun pada Allah setelah melakukan keburukan atau dosa-dosa.

التّعريفات التي يُعرَّف بها اصطلاحاً، وقد نصَّ عليها العلماء في عدّة مواضع، ومن تعريفات الاستغفار: هو طلب العبد المغفرة من الله تعالى بعد رؤية قُبح المعصية، والإعراض عنها،تعريف الاستغفار أيضاً بأنّه: طلب العفو من الله تعالى عمَّا اقترف العبدُ من ذنوبٍ وآثام.

Bagaimana dengan "Allah akan mengampuni dosa-dosa yang akan datang"? Sebagaimana pertanyaan dari salah satu jamaah di awal tulisan ini. Di antaranya adalah Allah memalingkan seseorang dari keburukan, sehingga tidak melakukan dosa. Atau Allah menutupi berbagai jalan-jalan keburukan, sehingga orang tersebut tidak melakukan dosa-dosa. 

Maka, memperbanyak istighfar kepadaNya, akan dapat meringankan beban beran dalam kehidupan, karena setiap dosa terdapat konsekwensinya, demikian juga setiap kebaikan yang diperbuat juga akan mendapatkan konsekwensinya.
 
Di antara kalimat permohonan ampunan atau doa yang dianjurkan dalam bulan Ramadan adalah 

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku. (HR. Tirmidzi, no. 3513)

Ramadan adalah bulan terhebat yang Allah anugerahkan kepada umat Islam sebagai kesempatan emas untuk meraih ampunan-Nya. Di dalamnya, pintu rahmat dibuka selebar-lebarnya, dosa-dosa dihapus, dan pahala dilipatgandakan. Setiap ibadah yang dilakukan dengan ikhlas menjadi jalan menuju maghfirah, baik melalui shalat, puasa, tilawah Al-Qur'an, maupun sedekah. Malam-malamnya penuh berkah, terutama dengan hadirnya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjanjikan pengampunan bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencari ridha-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, _"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."_ (HR. Bukhari & Muslim). Oleh karena itu, Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momen untuk kembali suci dan mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh harapan akan maghfirah-Nya.

Mudah mudahan puasa di bulan Ramadhan ini dosa-dosa kita diampuni oleh Allah subhanahu wata'ala.

Allahu'lam bishawab.

Puasa Jalan Menuju Sakinah, Mawaddah wa Rahmah*

#2

Halimi Zuhdy

Tulisan ini, bukan hanya untuk mereka yang sudah berkeluarga. Tapi, bagi siapa pun yang hidup di dunia, yang membutuhkan ketenangan dan cinta kasih. Ramadan adalah madrasah terbaik untuk belajar di kelas kasih sayang, kelas ketenangan, kelas ampunan, dan kelas lainnya untuk mengantarkan pada lulusan terbaik, taqwa. 
Puasa dalam bulan Ramadan bukan sekadar menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu. Ia adalah jalan menuju ketenangan jiwa, cinta yang tulus, serta kasih sayang yang hakiki. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, puasa bukan hanya ibadah individual, tetapi juga sebuah proses pembentukan Sakinah (ketenangan), Mawaddah (cinta dan kasih sayang), dan Rahmah (kelembutan dan belas kasih). 

Menariknya, tiga nilai di atas sejalan dengan tiga tingkatan keberkahan Ramadan: Maghfirah (ampunan), Rahmah (kasih sayang Allah), dan Itqun minan-Nar (pembebasan dari neraka), serta tiga konsep spiritual yang menjadi tujuan utama ibadah: Tazkiyah (penyucian jiwa), Istiqamah (konsistensi dalam kebaikan), dan Ma’rifah (pengenalan terhadap Allah secara mendalam). Ini bukan sebuah kebetulan, tetapi tiga hal kunci untuk menemukan kesuksesan, tidak hanya di dunia saja, tapi juga di akhirat.

Bagaimana logika puasa dapat menghubungkan semua konsep ini dalam kehidupan nyata? Baik. Kalau kita tilik lebih dalam, kita menemukan kejutan-kejutan bagaimana Islam memberikan hadiah terbesar di bulan Ramadan. Pertama, sakinah yang sejalan dengan ketenangan jiwa dan maghfirah. 

Puasa mendidik manusia untuk menahan emosi, mengendalikan hawa nafsu, dan lebih banyak bermuhasabah. Inilah yang menjadi kunci bagi terciptanya Sakinah, ketenangan yang sejati dalam kehidupan pribadi dan keluarga. Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa salah satu tujuan pernikahan adalah agar pasangan suami istri merasakan ketenangan satu sama lain:

لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا 

“Agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21).

Sakinah dalam keluarga hanya dapat terwujud jika masing-masing individu memiliki ketenangan dalam dirinya. Puasa berperan dalam membentuk ketenangan ini dengan melatih kesabaran dan pengendalian diri. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ

"Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor dan jangan membentak." (HR. Bukhari & Muslim)

Dari aspek spiritual, ketenangan dalam berpuasa juga terkait dengan Maghfirah, yakni ampunan dari Allah. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari & Muslim)

Secara filosofis, Maghfirah adalah proses Tazkiyah, penyucian diri dari dosa-dosa masa lalu. Dengan berpuasa, seseorang tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menyucikan hatinya dari kesalahan yang bisa merusak ketenangan dalam keluarga. Wow, tiga hal menarik untuk menciptakan ketengan plus ampunan (maghfirah).

Kedua, adalah Mawaddah. Mawaddah dalam keluarga adalah bentuk kasih sayang yang murni dan penuh gairah. Ramadan memperkuat Mawaddah karena di dalamnya ada kebersamaan yang lebih intens dalam ibadah, sahur, berbuka, dan doa bersama.

Rasulullah SAW adalah orang yang paling penyayang, dan di bulan Ramadan beliau semakin meningkatkan kedermawanannya. Sebagaimana hadis Nabi

كَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

"Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan di bulan Ramadan." (HR. Bukhari)

Sifat ini sejalan dengan Rahmah, kasih sayang Allah yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya di bulan Ramadan. 

Dari perspektif spiritual, Mawaddah dan Rahmah ini juga berkaitan dengan Istiqamah dalam berbuat baik. Jika seseorang ingin mempertahankan kasih sayang dalam keluarga, ia harus konsisten dalam kebaikan, sebagaimana Allah memerintahkan:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu." (QS. Hud: 112)

Puasa melatih kita untuk tetap dalam kebaikan, bukan hanya di bulan Ramadan tetapi juga setelahnya, sehingga Mawaddah dan Rahmah dapat terus terjaga dalam rumah tangga.

Ketiga, adalah Rahmah. Rahmah adalah kelembutan dan kepedulian yang membuat kehidupan lebih damai. Dalam keluarga, Rahmah berarti saling memahami, saling membantu, dan saling menolong dalam kebaikan.

Puasa melatih Rahmah dengan cara mengajarkan kita merasakan penderitaan orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua." (HR. Tirmidzi)

Dalam skala yang lebih besar, Rahmah ini mengarah pada Itqun minannar, yaitu pembebasan dari api neraka, karena Allah menjanjikan keselamatan bagi mereka yang benar-benar berpuasa dengan ikhlas.

Dari sisi spiritual, Rahmah juga menjadi pintu menuju Ma’rifah, yaitu mengenal Allah dengan lebih dalam. Dengan berpuasa, seseorang lebih dekat kepada Allah, lebih banyak berdzikir, dan lebih sadar akan kebesaran-Nya. Inilah yang dimaksud dalam Al-Qur’an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ... لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa... agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa adalah puncak Ma’rifah, karena seseorang yang telah mengenal Allah dengan baik akan selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya.

Jika disusun dalam pola berpikir yang runtut, puasa menghubungkan tiga aspek kehidupan keluarga dengan tiga tingkatan keberkahan Ramadan serta tiga konsep spiritual yang lebih tinggi. 

Dengan kata lain, puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga proses penyucian jiwa, pemeliharaan kasih sayang, serta perjalanan menuju kedekatan dengan Allah. Ramadan bukan hanya waktu untuk menahan lapar, tetapi juga waktu untuk membangun kehidupan yang lebih tenang, penuh cinta, dan penuh berkah.

Memang, sepertinya sulit untuk melirik setiap aspek di atas apalagi mempraktikkannya, tetapi bagi orang yang beriman, ia akan selalu belajar di setiap kelas dalam madrasah Ramadan. Karena, hidup adalah pelajaran-pelajaran terbaik bagi mereka yang la'alakum ta'qilun. _Allahu'alam bishawab_

Malang, 2 Maret 2025
(Bulan Literasi) #1

Halimi Zuhdy

Bulan Ramadan, pembuka peradaban membaca yang sesungguhnya. Pada bulan ini, Ayat membaca diturunkan "Iqra'", dan nama kitabnya pun, disebut "Qur'an" sebuah "Bacaan". Adakah sebuah kitab yang menyamainya?
Betapa bulan ini menjadi bulan pembuka alam berfikir, bertafakkur dan awal dari hebatnya sebuah umat, karena tanpa membaca, suatu bangsa atau kaum tidak akan pernah maju dan beradab.

Masyarakat Arab pada waktu itu sebagai masyarakat ummiyyun (seperti bayi ketika lahir) yang tidak dapat membaca dan menulis, hanya belasan saja yang mampu menulis dan membaca, sehingga mereka mengandalkan hafalan saja. Dan yang kuat hafalannya, dianggap orang yang cerdas, dan menghafal menjadi tolak ukur kehebatan seseorang, serta yang bisa menulis pun dianggap aib. "Innahu indana aibun, sesungguhnya menulis di kalangan kami aib", demikian kata Zurrahmah.

Masyarakat pada waktu itu masih awam dalam banyak disiplin ilmu, bahkan Makkah terisolasi dari kemajuan daerah sekitarnya yang sudah memiliki kemajuan sain, teknologi dan lainnya, seperti; Mesir, Persia, Irak dan Cina. Kecuali dalam bidang sastra dan bahasa, memiliki keistimewaan sendiri, itupun terbatas beberapa orang saja, sehingga yang mampu bersastra, adalah mereka yang berhak memiliki segala, dan bahkan melebihi raja.

"Iqra'" benar-benar merubah segala, orang Arab kemudian memiliki pengetahuan yang luar biasa, dunia literasi tumbuh membunga dan berkecambah, yang puncaknya, pengetahuan dunia berada di tangan umat Islam, peradaban emas ditoreh oleh Muawwiyah, Abbasiyah dan seterusnya, di Barat masih benar-benar gulita. Membaca di kalangan ulama salaf sangat luar biasa, hal tersebut benih dari kata "Iqra", benih dari Alquran yang diturunkan di bulan Ramadan, seperti Al-Jahizh yang berkata, "Barang siapa yang ketika membeli buku dan membacanya tidak merasa lebih nikmat daripada saat membelanjakan hartanya untuk membeli hal-hal yang diinginkan, atau tidak melebihi ambisi para hartawan untuk membangun bangunan, sesungguhnya ia belum mencintai ilmu".

Seperti As-Saghani, lebih 50 tahun tidak henti membaca buku, Ali Asyafi'i bergadang semalam suntuk bersama buku, Fairuz Abadi kemana-mana hanya ada buku dan pena, Ibnu Taimiyah walau di kamar mandi tak lepas dari membaca, Abu Khair As Sa'di sampai di penghujung usianya buku teman abadinya, Adz-Zahabi yang sampai mengeluarkan kencing darah dua kali, ia kemana-mana memikul buku di pundaknya. Belum lagi Abdullah Mubarok, Adz-Dzuli, Ibnu Arabi, Ar-Razi, Ibnu Asakir, yang kehidupan mereka dipenuhi dengan membaca dan menulis, tiada hari tanpa menelaah kitab, mereka selalu bahagia dan tidak pernah kesepian karena selalu ditemani oleh buku-buku. Ada yang sehari-hari menghatamkan puluhan buku, satu bulan ratusan bahkan puluhan ribu buku selesai terbaca.

Inilah budaya dan peradaban keilmuan yang luar biasa, benar-benar buku menjadi inspirasi membuka pintu-pintu ilmu dan mereka tidak hanya menjadi pembaca, tetapi berkarya, yang setiap harinya puluhan lembar terotereh dari tangan-tangan mulia mereka. Bisa dibatangkan berapa jilid buku yang diselesaikan dalam satu tahun saja, maka tidak heran satu tangan penulis melahirkan ratusan buku, satu judul buku lebih dari 20 jilid. Adakah yang menandinginya hari ini?Bulan Ramadhan, bulan membaca, seperti Al Aswad bin Yazid yang hatam Alqur'an setiap dua malam, Qotadah yang menghatamkan setiap tiga hari, Imam Asyafii khatam 60 kali dalam bulan Ramadan, Ibnu Asyakir setiap hari mampu menghatamkan Alquran. Sungguh, bulan yang diberkati ini melahirkan banyak karya, para ulama berlomba lomba membaca sumber segala ilmu, Alqur'an. Jika dunia membaca sudah hilang dari komunitas, sekolah, kampus, dan negara, hal tersebut menjadi tanda dari kematian ilmu. Seandainya ada bulan membaca, maka bulan Ramadanlah yang lebih pantas.

Selamat membaca dan mentafakkuri al-Quran kemudian 

***

_Kajian-kajian Al-Qur'an, Mukjizat Al-Quran, Balaghah, Sastra Arab, Turast Islamiyah, Keagamaan,  Kajian Bahasa dan asal Muasal Bahasa, dan lainnya._

🧷 *Fatwa Cinta* _(Saluran WA)_
🌎 www.halimizuhdy.com
🎞️ YouTube *Lil Jamik*
📲  Facebook *Halimi Zuhdy*
📷 IG *Halimizuhdy3011*
🐦 Twitter *Halimi Zuhdy*
🎼 TikTok *HalimiZuhdy*

Senin, 24 Februari 2025

Mewujudkan Kampus yang Berkontribusi bagi Kebermanfaatan Umat


Halimi Zuhdy

Saya duduk di shaf kedua. Menunggu kedatangan Sekjen Kementerian Agama RI. Sambil berfikir, kira-kira apa hal baru yang akan beliau sampaikan. Atau hal lama yang mungkin beliau perkuat. Karena, setiap pemimpin baru pasti membawa visi dan misi yang akan diwujudkannya. Setengah jam menunggu, beliau hadir bersama Rektor UIN Malang, Prof M. Zainuddin yang didampingi oleh para wakil rektor dan beberapa jajaran lainnya. 
Acara dimulai, setelah sambutan rektor. Bapak Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA, menyampaikan orasinya. Dalam rangka Pengarahan Sekjen di Kampus III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat, baik dalam lingkup lokal maupun global.

"Terdapat tiga kampus yang berpengaruh dalam diskursus keagamaan dunia, yakni Universitas Al-Azhar di Mesir, Universitas Islam Madinah di Arab Saudi, dan Universitas Al-Musthafa di Iran", Kata beliau, bahwa penyebutan tiga kampus tadi dari hasil penelitian dari seorang peneliti di Inggris (beliau tidak menyebutkan namanya). Tiga kampus tersebut tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi sumber pemikiran yang dibawa oleh mahasiswa asing ke negara masing-masing, menciptakan jaringan intelektual yang luas dan berkelanjutan.

Terus beliau menyinggung banyak kampus, khususnya di Indonesia. Kampus Islam. Yang harus terus bergerak, tidak hanya mengejar predikat kampus Internasional, tetapi harus benar-benar berdampak pada lingkungan sekitar (khususnya) dan juga pada Indonesia. Namun, fenomena yang terjadi di banyak kampus-kampus adalah keberadaan sumber daya manusia yang melimpah tetapi kurang memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Banyak alumni yang berhasil dalam bidang akademik, namun realitas sosial di sekitar mereka tetap tertinggal. Ada lulusan yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, terjadi perceraian dalam keluarga, anak-anak santri mengalami masalah ekonomi, dan kondisi sosial lainnya yang memprihatinkan. Kampus, dalam hal ini, tidak boleh menjadi entitas yang terisolasi dari realitas kehidupan masyarakat.

Untuk menjawab tantangan ini, beliau menyampaikan tentang pembangunan agama ke depan harus berorientasi pada visi “Rukun, Cerdas, dan Maslahah.” Kerukunan menjadi aspek utama, mengingat keberagaman masyarakat Indonesia yang multikultural. Kementerian Agama diberikan amanah untuk menjaga harmoni sosial, menjadikannya sebagai target utama dalam pembangunan keagamaan.

Lebih dari itu, agama harus mendatangkan kemaslahatan bagi umat. Pemahaman agama tidak boleh hanya terbatas pada aspek akidah, moral, surga, dan neraka, tetapi juga harus menjadi instrumen yang solutif dalam kehidupan sosial. Dalam konteks ini, kampus memiliki tanggung jawab besar untuk menerjemahkan ajaran agama ke dalam tindakan nyata yang mendukung kesejahteraan masyarakat.

Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam pengarahan ini adalah konsep ekoteologi, yaitu bagaimana agama dapat menjadi dasar dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Setiap elemen dalam masyarakat keagamaan, termasuk Kanwil Kementerian Agama, KUA, dan kampus, harus menginternalisasi nilai-nilai ekologis dalam setiap kebijakan dan aktivitasnya. Kesadaran hemat energi, pengelolaan air yang bijak, serta kebersihan lingkungan harus menjadi bagian dari dakwah bil hal (dakwah melalui tindakan nyata).

Tindakan konkret yang dapat dilakukan, misalnya, bukan hanya dengan mengirimkan karangan bunga dalam acara seremonial, tetapi juga dengan menanam pohon sebagai simbol keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Anomali sosial-ekonomi di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Saat ini, terdapat sekitar 27 juta orang miskin dan sekitar 2 juta penyandang disabilitas yang membutuhkan perhatian serius. Masalah ini bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat, termasuk akademisi.

Dalam dunia akademik, sering kali keberhasilan diukur dari jumlah jurnal yang diterbitkan, tetapi kurang menyoroti bagaimana ilmu yang dihasilkan dapat memberikan dampak bagi masyarakat luas. Dosen dan mahasiswa harus lebih aktif dalam membangun keterkaitan antara akademisi dan realitas sosial. Sebagai contoh, meskipun banyak ahli tafsir di lingkungan akademik, tetapi masih banyak masyarakat sekitar yang kurang mendapatkan akses terhadap kajian keislaman yang mendalam. Bahkan masih banyak yang belum bisa membaca Al-Qur'an. Terus SDM yang melimpah, tapi tidak memberikan kontribusi pada lingkungannya?! 

Selain itu, tingkat perceraian yang tinggi, masalah stunting, dan kondisi anak yatim yang terus meningkat juga perlu mendapatkan perhatian lebih. Jika dalam setahun terdapat sekitar 400 ribu kasus perceraian, maka muncul pertanyaan, berapa banyak anak yatim dan janda yang perlu mendapatkan bantuan sosial? Kampus dan akademisi harus hadir untuk menawarkan solusi nyata bagi permasalahan ini.

Salah satu tantangan besar bagi dunia akademik adalah bagaimana menjadikan kampus sebagai pusat kebermanfaatan bagi masyarakat. Keberhasilan akademik tidak boleh hanya diukur dari peringkat internasional, tetapi juga dari sejauh mana kampus mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya.

Alumni yang telah dicetak oleh kampus harus terus berkontribusi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Masih banyak tugas yang harus dilakukan oleh dosen dan mahasiswa dalam membangun komunitas, memberdayakan masyarakat, dan menciptakan perubahan yang berarti. Penghargaan yang tinggi perlu diberikan kepada para akademisi yang tidak hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga aktif dalam membina masyarakat, menyampaikan khutbah, dan berkontribusi dalam pengembangan komunitas.

Pada akhirnya, kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading yang terpaku pada keunggulan akademik, tetapi harus menjadi institusi yang benar-benar memberikan manfaat nyata bagi umat. Dengan semangat rukun, cerdas, dan maslahah, diharapkan perguruan tinggi Islam dapat menjadi pionir dalam membangun masyarakat yang lebih baik, adil, dan sejahtera.

Malang, 24 Februari 2025

Halimi Zuhdy

Sebagai seorang pendidik, saya sedih ketika melihat dan mendengar seorang pengajar yang melakukan kekerasan fisik atau mental, pengajar yang sering memarahi, merendahkan, atau mempermalukan murid yang akan membuat proses belajar menjadi tidak nyaman dan menurunkan semangat belajar. Atau seorang guru yang berkata baik tetapi bertindak sebaliknya. Atau membedakan murid berdasarkan latar belakang, kedekatan pribadi, atau prestasi akademik tanpa alasan yang benar. Atau mengajar hanya soal nilai dan hafalan, tetapi tidak peduli pada pembentukan karakter. Atau pengajar yang hanya sekedar masuk kelas, tanpa persiapan. Dan lainnya. 
Ketika kita berbicara tentang pendidikan, sering kali yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah kurikulum, metode pembelajaran, atau fasilitas sekolah. (tidak salah Lo, kurikulum, metode dan fasilitas itu penting, apalagi lembaga pendidikan harus memperhatikan hal tersebut). Tapi, ada sesuatu yang lebih mendasar yang harus menjadi perhatian, yaitu pengajar itu sendiri.  Mari kita lirik dan kaji susunan Ayat dalam Surat Ar-Rahman berikut. Penulis sengaja melirik Ayat ini, karena ada 3 (tiga) kata penting. Ar-Rahman, Allama dan al-Qur'an. Dan Ayat ini dipilih karena terdapat kata "allama", mendidik, mengajar, memberitahu, menginstruksikan, memberi pelajaran. Mari, perhatikan bagaimana Allah membuka Surah Ar-Rahman:  

الرَّحْمٰنُ عَلَّمَ الْقُرْآنَ  

Urutan kata dalam ayat ini bukan kebetulan. Allah tidak langsung menyebut proses mengajar (‘allama) atau materi ajar (Al-Qur’an), melainkan terlebih dahulu memperkenalkan diri-Nya sebagai "Ar-Rahman", Yang Maha Pengasih. Ini memberikan pelajaran penting, pendidikan harus dimulai dari pribadi pendidik itu sendiri.

Seorang guru, sebelum ia mengajarkan ilmu, harus memiliki kasih sayang, empati, dan ketulusan. Ilmu bisa diperoleh di mana saja, tetapi sentuhan hati dari seorang guru yang baik akan membentuk kepribadian muridnya. Betapa banyak orang yang sukses bukan karena buku ajar yang canggih, tetapi karena bertemu dengan seorang guru yang menginspirasi mereka dengan kelembutan dan kebijaksanaan.  Sekali lagi, bukan tidak butuh buku ajar Lo ya?! Wkwwk

Setelah sifat Ar-Rahman disebutkan, barulah muncul kata ‘allama - mengajar. Ini menunjukkan bahwa proses belajar-mengajar memang penting, tetapi ia harus berjalan di atas dasar kasih sayang dan kepedulian. Pendidikan bukan sekadar menyampaikan teori atau menyusun silabus, melainkan seni dalam membimbing dan mendidik dengan penuh kebijaksanaan.  

Kemudian, setelah menyebut proses mengajar, Allah menyebut Al-Qur’an - materi ajar. Ini mengajarkan kepada kita bahwa "buku, fasilitas, dan kurikulum memang diperlukan, tetapi mereka bukan faktor utama dalam keberhasilan pendidikan." Jika seorang guru/dosen/ustadz memiliki hati yang penuh kasih dan metode yang baik, ia bisa mengajarkan ilmu bahkan tanpa fasilitas yang mewah. Namun, sebaliknya, jika pendidikan hanya bertumpu pada teknologi dan buku tanpa adanya guru yang tulus, ilmu akan kehilangan rohnya. Apalagi tujuan ilmu bukan hanya sekedar mencari ilmu lo ya, tapi menjadi lebih baik dengan akhlak terpuji. 

Jadi, dalam konsep pendidikan yang diajarkan oleh Ayat di atas, ada tiga unsur utama: pribadi pengajar, metode mengajar, dan materi ajar. Namun, urutannya jelas—bukan dimulai dari materi, bukan pula dari metode, melainkan dari karakter pendidiknya. Oh ia, ini bukan satu-satunya, kalau benar-benar ingin mengetahui pendidikan dalam Al-Qur'an, mungkin dapat menggunakan beberapa Ayat terkait dengan ilmu atau pendidikan, yang dalam Al-Qur'an kata "ilmu" dan derivasinya ada 811. Ini membutuhkan kajian lebih dalam. 

Dalam menilik Ayat di atas, Inilah yang perlu kita renungkan. Sebelum bertanya tentang metode terbaik atau kurikulum yang paling efektif, kita perlu bertanya lebih dulu, sudahkah para pendidik memiliki kasih sayang dan kebijaksanaan dalam mendidik? Sebab, sebagaimana yang diajarkan dalam Surah Ar-Rahman, pendidikan sejati bukan hanya soal ilmu, tetapi tentang bagaimana ilmu itu diberikan dengan cinta.🥰

***
Maka, bisa ikuti Saluran Fatwa Cinta Ya......

Mengukur Kebahagiaan


(Indonesia Negara Paling Bahagia Ketiga di Dunia).

Halimi Zuhdy

Saya sedikit bingung cara mengukur Kebahagiaan, apalagi tidak punya alat ukur tentang kebahagiaan (versi pribadi), bahkan kebahagiaan pribadi pun kadang tidak bisa diukur, hanya ada rasa, tiba-tiba tersenyum dan dada terasa lapang. Pikiran menjadi fresh. Itu saja. 
Dan setiap orang berbeda-beda untuk mendapatkan dan merasakan kebahagiaan. Maka, sesuatu yang menurut kita bahagia, belum tentu menurut orang lain bahagia. Tapi, ada kebahagiaan umum yang semua orang ketika mendapatkannya menjadi bahagia. Itu pun, "rasa bahagia" masih banyak macamnya Lo. Dalam bahasa Arab, ada farah dan sa'adah. Keduanya berbeda, belum lagi ketika membincang kebahagiaan di dunia dan akhirat, tambah komplek. Terus bagaimana?.wkwkwwk. 

Entah, bagaimana "Ipsos" mengukur Kebahagiaan secara global. Laporan Global Happiness 2024 dari Ipsos menunjukkan bahwa kebahagiaan manusia masih berada dalam fase fluktuatif. Meski telah mengalami peningkatan sejak pandemi, tingkat kebahagiaan global sedikit menurun dibandingkan tahun lalu. Dari 30 negara yang disurvei, 71% orang mengaku bahagia—lebih tinggi dibandingkan 2020 yang hanya mencapai 63%, namun masih tertinggal dari puncak kebahagiaan di tahun 2011 yang mencapai 77%.

Di antara negara-negara yang disurvei, Belanda dinobatkan sebagai negara paling bahagia, dengan 85% penduduknya merasa puas dengan kehidupan mereka. Sementara itu, Hongaria dan Korea Selatan menjadi dua negara dengan tingkat kebahagiaan terendah, hanya mencapai 48%. Perubahan signifikan juga terlihat di Türkiye, yang mencatat penurunan kebahagiaan terbesar sejak 2011, turun hingga 30%. Sebaliknya, Spanyol justru mengalami peningkatan kebahagiaan tertinggi dalam periode yang sama.

Dan, kalau kita baca lebih cermat lagi tentang Indonesia di Ipsos, bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga dalam tingkat kebahagiaan global. Data menunjukkan bahwa 82% masyarakat Indonesia merasa bahagia, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di Asia Tenggara, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand (79%), Malaysia (77%), dan Singapura (74%). Peningkatan yang signifikan ini terlihat dari perbandingan dengan tahun sebelumnya, di mana Indonesia naik sembilan peringkat dan persentase kebahagiannya meningkat sebesar 3% dari sebelumnya 79% di tahun 2023. (Selengkapnya, dapat dibaca di Ipsos Ya)He. 

Masih dalam laporan Ipsos, bahwa tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan, keluarga dan pertemanan menjadi aspek yang paling memberi kepuasan. Namun, di sisi lain, banyak orang merasa tidak puas dengan kondisi politik dan ekonomi di negara mereka, serta keadaan finansial pribadi. Ketidakpastian global tampaknya memberikan tekanan tersendiri, membuat banyak orang merasa kurang memiliki kendali atas kehidupan mereka, terutama di kalangan Generasi Z. Hanya 65% dari mereka yang merasa mampu mengendalikan hidup mereka, jauh lebih rendah dibandingkan dengan Baby Boomers yang mencapai 76%.

Meskipun demikian, manusia tetap menemukan cara untuk bertahan dan menemukan kebahagiaan dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Di tengah ketidakpastian global, hubungan keluarga, persahabatan, dan kepuasan pribadi tetap menjadi sumber kebahagiaan yang paling berharga. Dunia boleh saja menghadapi tantangan yang semakin kompleks, tetapi harapan dan kebahagiaan masih terus hidup di hati banyak orang. Wow. 

Yang menarik, masak sih orang Indonesia peringkat paling bahagia di dunia, wong bukan negara adidaya, tidak seperti Amerika. Juga bukan negara paling kaya, seperti Singapura dan beberapa negara lainnya. Juga bukan penemu teknologi tercanggih, bahkan termasuk yang tertinggal, beda dengan China, Rusia dan lainnya. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tapi itulah fakta, kok kita mendapatkan peringkat ketiga, masih belum percaya diri, bahwa kita paling bahagia, kira-kira kenapa Ya 🤩

****
Dalam kajian berikut (Integrasi Islam dan Sain), akan sedikit dikupas tentang, apa sih tujuan diciptakan manusia? Untuk memakmurkan bumi, merusak bumi, mengolah bumi, atau.....apakah dengan bisa merasakan bahagia? 😆

Dua Akhir Ayat Ini, Menggambarkan Betapa Manusia Itu Terkadang Tidak Sadar dan Tidak Mengatahui


(La Yasy'urun, La Ya'lamun)

Halimi Zuhdy

Menarik kalau kita cermati dalam kehidupan kita sehari-hari, entah itu terjadi pada diri kita atau pada orang lain. Ada orang yang "sok tahu", "sok pinter" dan "sok benar" atau mungkin kita sendiri yang sok, tapi kita tidak menyadarinya. Kadang sudah jelas-jelas salah, masih saja marah-marah dan ngotot. Seperti kejadian tadi pagi yang saya alami, sepeda motor terkena senggol mobil yang saya kendarai, posisinya berada di sebelah kiri mobil, berjalan dengan kecepatan luar biasa, sudah tahu tidak boleh nyalip sebelah kiri, eh masih ngotot dan merasa benar. Eh, turun marah-marah. Wkwkwwk
Ada juga, laut jelas-jelas milik negara, eh dibuat sertifikat hal milik pribadi. Entah yang salah negara yang memberi izin, atau oligarki yang punya uang dan yang punya kuasa, ngotot. Embuh, bingung juga. Memang benar, kalau orang selalu merasa benar dan tidak pernah merasa bersalah, akan menjadikan ia sombong, kalau sudah sombong, biasa suka marah-marah. Mengapa marah-marah, karena orang lain dianggap rendah. 

Dan banyak sekali contoh terkait dengan salah-menyalahkan, yang ternyata dirinya yang salah. Maka penting sekali untuk terus evaluasi diri, bukan sering-sering dan sedikit-sedikit evaluasi orang lain. Kayak lembaga survei dan lembaga evaluasi saja.kwkwwk. 

Mari kita lihat dan baca dengan pelan-pelan dua Ayat berikut; Al-Baqarah, Ayat 11-12 dan Ayat 13. Bahwa dalam kehidupan ini, sering kali manusia merasa bahwa mereka sedang berjalan di jalur yang benar, tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang melakukan kesalahan. Mereka merasa menjadi pembangun, padahal tanpa sadar mereka adalah perusak. Inilah realitas yang Allah gambarkan dalam Al-Qur'an:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ۝١١ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِن لَّا يَشْعُرُونَ ۝١٢

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami justru orang-orang yang mengadakan perbaikan.'  
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya."  (QS. Al-Baqarah: 11-12)

Perhatikan bagaimana Allah menggunakan kata لَّا يَشْعُرُونَ (lā yash‘urūn) yang berarti "mereka tidak menyadari" dalam ayat ini. Ini menunjukkan bahwa mereka melakukan kerusakan tanpa merasakan akibatnya. Kerusakan yang mereka buat bukan sesuatu yang mereka pahami secara langsung, tetapi mereka melakukannya dengan anggapan bahwa itu adalah perbaikan.

Namun, ada kelompok lain yang meskipun mereka telah diberi peringatan dan ajakan untuk beriman, mereka tetap terjebak dalam kebodohan mereka sendiri. Allah melanjutkan dalam ayat lain:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِن لَّا يَعْلَمُونَ ۝١٣

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman.' Mereka menjawab, 'Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman?' Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahui."  (QS. Al-Baqarah: 13)

Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata لَّا يَعْلَمُونَ (lā ya‘lamūn) yang berarti "mereka tidak mengetahui." Ini bukan sekadar ketidaksadaran, melainkan kebodohan dalam memahami hakikat iman yang sebenarnya. Mereka menganggap diri mereka lebih cerdas daripada orang-orang beriman, padahal justru merekalah yang terjebak dalam kebodohan mereka sendiri.

Dari sini kita bisa melihat bahwa ada dua jenis kesalahan yang sering terjadi (1) Kesalahan yang dilakukan tanpa disadari (لَّا يَشْعُرُونَ), seperti orang yang merasa dirinya sedang memperbaiki, tetapi sebenarnya merusak. (2) Kesalahan karena ketidaktahuan (لَّا يَعْلَمُونَ), yaitu mereka yang menolak kebenaran karena merasa lebih tahu, padahal mereka tidak memiliki pemahaman yang benar.

Kedua kondisi ini bisa menimpa siapa saja dalam kehidupan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu melakukan introspeksi dan mencari ilmu agar tidak terjebak dalam kebodohan dan kesalahan tanpa kita sadari. Semoga Allah memberikan kita hati yang peka terhadap kebenaran dan ilmu yang bermanfaat. Aamiin.

Allahu'alam bishawab

Malang, 15 Feb 2025

Catatan ringan di Halaqah UIN Malang Menteri Agama Nasaruddin Umar

 "Membangun Kampus Islam yang Berkarakter: Meneladani Sifat Tuhan"

Catatan ringan ini saya jahit dari untaian Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar dalam Halaqah di UIN Malang, beliau menekankan pentingnya profesionalisme dalam menjalankan tugas di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Menurutnya, profesionalisme bukan hanya sekadar tuntutan administratif, tetapi juga bagian dari amanah besar dalam menghadapi tantangan zaman.
Sebagai institusi pendidikan Islam, kampus-kampus di bawah Kementerian Agama (Kemenag) harus memiliki visi yang jelas. Prof. Nasaruddin mengingatkan bahwa Tuhan sendiri memiliki blueprint dalam menciptakan alam semesta. Maka, manusia yang diberi akal tidak boleh hidup tanpa tujuan yang jelas.

"Kita tidak bisa hanya berjalan tanpa arah, sementara Tuhan telah menetapkan sistem yang begitu sempurna dalam penciptaan-Nya," ujar beliau.

Dalam konteks ini, setiap perguruan tinggi Islam harus menata langkahnya dengan jelas, bukan sekadar mengejar predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), membangun gedung megah, atau meraih peringkat dunia. Lebih dari itu, keberhasilan sejati diukur dari seberapa besar manfaat kampus bagi masyarakat.

"Kampus Islam harus benar-benar hadir untuk umat, bukan hanya eksis dalam angka dan statistik," tambahnya.

Salah satu hal yang menjadi tantangan besar bagi kampus Islam adalah menghindari jebakan formalitas. Kampus tidak boleh hanya menjadi institusi administratif, tetapi harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam.

"Sebesar apa pun anggaran yang dihabiskan, jika tidak menghasilkan moral yang baik, maka itu tidak berhasil," tegas Prof. Nasaruddin.

Di sinilah pentingnya identitas Islam dalam Universitas Islam Negeri (UIN). Huruf “I” dalam UIN bukan hanya simbol, tetapi juga tanggung jawab besar. Mahasiswa yang dihasilkan harus memiliki kecerdasan akademik sekaligus akhlak seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim, sosok yang dikenal karena kesalehan dan perjuangannya dalam membangun masyarakat.

Dalam aspek keilmuan, Prof. Nasaruddin mengingatkan bahwa integrasi ilmu tidak boleh hanya sekadar "ayatisasi sains"—yakni hanya menempelkan ayat-ayat Alquran pada teori sains.

"Mari kita ciptakan konsep integrasi keilmuan yang sejati. Bukan sekadar mengutip ayat, tetapi bagaimana nilai ketuhanan bisa benar-benar hadir dalam setiap disiplin ilmu," katanya.

Konsep ini menuntut pendekatan yang lebih filosofis dan mendalam, di mana ketuhanan bukan sekadar ornamen, tetapi menjadi ruh dalam setiap kajian ilmu.

Sebagai bagian dari Islam yang rahmatan lil ‘alamin, perguruan tinggi Islam juga perlu memahami konsep keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Konsep ini dikenal dengan eco-theology, yang mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan harus dikelola berdasarkan nilai-nilai spiritual dan etika Islam.

Jika keseimbangan ini diterapkan, kampus Islam tidak hanya akan melahirkan ilmuwan yang unggul, tetapi juga pemimpin yang berakhlak dan peduli terhadap kemanusiaan serta lingkungan.

Dan, selanjutnya saya mencatata beberapa hal penting dari uraian beliau. Apa gunanya seseorang menjadi pintar dan berilmu, tetapi tidak Arif Billah (mengenal Tuhannya)? Jika perguruan tinggi Islam hanya mencetak orang cerdas dalam sains tanpa membawa mereka lebih dekat kepada Allah, maka apa bedanya dengan universitas umum?

Inilah yang ditekankan oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. UIN Malang dan kampus Islam lainnya bukan sekadar tempat belajar ilmu dunia, tetapi juga ruang untuk menemukan Tuhan dalam setiap disiplin ilmu.

Kata beliau, "Mari kita bayangkan Ibnu Rusyd—di pagi hari ia adalah dokter spesialis, siang hari seorang filsuf, sore seorang qadhi (hakim), dan malamnya seorang sufi. Ilmu tidak membuatnya jauh dari Allah, justru semakin mendekatkannya."

Maka, kebanggaan kampus bukanlah gedung megah atau laboratorium lengkap, tetapi sejauh mana ia melahirkan insan yang alim sekaligus arif billah—orang yang tidak hanya tahu banyak, tetapi juga bijak dan dekat dengan Allah.

Jika ada orang ahli agama tetapi mengajarkan kebencian, maka ia bukanlah ahli agama, melainkan tukang benci. Karena agama adalah cinta. Allah itu Rahman dan Rahim, yang berasal dari kata rahim—tempat kehidupan bermula, yang penuh dengan kasih sayang. Dunia ini indah karena cinta. Maka, di kampus Islam, ilmu yang diajarkan pun harus bersumber dari cinta—bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga membangun karakter penuh kasih.

Orang yang masih sibuk menyalahkan orang lain berarti belum selesai belajar. Orang arif tidak mencari kambing hitam atau putih, tetapi selalu mencari dirinya sendiri, mengoreksi, dan memperbaiki diri.

Dan di UIN Malang, harapannya bukan hanya melahirkan orang yang alim, tetapi juga orang yang arif billah—yang mengenal dan mencintai Tuhannya melalui setiap ilmu yang dipelajarinya.

Allahu'alam bisshawab 

Halimi Zuhdy
Precet, 10 Februari 2025

Maaf, Saya "Khilaf"! (Menelisik Kesalahan Kata Khilaf)

Maaf, Saya "Khilaf"! 
(Menelisik Kesalahan Kata Khilaf)

Halimi Zuhdy

Banyak sekali kata bahasa Arab yang diserap dalam bahasa Indonesia, di antaranya kata "khilaf", "fatwa", "kalimat", "Jumlah" dan "fardlu".  Dan tidak sedikit yang salah paham terhadap kata-kata tersebut, karena dipengaruhi pemahanan bahasa Arabnya, tapi tidak memahami perubahan makna dalam bahasa Indonesia. Seperti kata "kalimat" dalam bahasa Indonesia, dipahami sebagai "kalimat" dalam bahasa Arab, maka ini sudah sebuah kesalahan. 
Dalam bahasa Indonesia, "kalimat" adalah gabungan dua kata atau lebih yang memiliki makna lengkap, seperti "Saya belajar bahasa Arab." Sebaliknya, dalam bahasa Arab, كلمة (kalimah) berarti satu kata saja, seperti المدرسة (sekolah) atau يكتب (menulis). Jika ingin menyebut "kalimat" dalam arti bahasa Indonesia, bahasa Arab menggunakan istilah جملة (jumlah). Oleh karena itu, memahami perbedaan ini penting agar tidak keliru dalam menerjemahkan dan mempelajari struktur bahasa Arab dengan lebih baik.

Bagaimana dengan kata "khilaf"? 

Toyyib. Beberapa kali saya mendengar dan juga membaca tulisan orang tentang kalimat yang terdapat kata "khilaf", sehingga tidak ada konsistensi dalam penggunaannya, dan pada akhirnya akan memberikan pemahaman yang keliru. Seperti "dia kyai Khilaf", "maaf saya khilaf", "sudah terjadi khilaf di antara kita", "semoga segala khilafnya diampuni oleh Allah", "maafkan saja, dia khilaf kok", "terjadi khilaf, karena adanya pemahaman yang berbeda". 

Mari kita cek "khilaf" dalam kamus bahasa Indonesia, kemudian nanti tilik juga dalam kamus bahasa Arab. Dalam KBBI; khi·laf artinya keliru; salah (yang tidak disengaja); ke·khi·laf·an n kekeliruan; kesalahan yang tidak disengaja. Sedangkan dalam kamus bahasa Arab, menurut sepengatuan saya (maaf, mungkin terbatas), tidak ditemukan kata "khilaf" yang bermakna "keliru atau salah", yang adalah pertentangan, perselisihan, perbedaan dan lainnya. 

Dalam kamus Bahasa Arab, kata "khilaf" berasal dari akar kata khalafa (خالَفَ), yang berarti "menyelisihi" atau "bertentangan." Secara bahasa (lughah), "khilaf" menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara dua hal, baik dalam pendapat, tindakan, maupun sifat.  

Dalam kamus Ma'ani al-Jami' (معجم المعاني الجامع), kata khilaf memiliki beberapa makna yang berbeda tergantung pada penggunaannya. Sebagai kata benda, "khilaf" merujuk pada perbedaan atau perselisihan antara dua pihak. Misalnya, dalam kalimat "baynahumā khilāf" (بَيْنَهُمَا خِلاَفٌ), kata ini menggambarkan adanya pertentangan atau perselisihan antara dua orang atau kelompok. Selain itu, "khilaf" juga dapat berarti sesuatu yang berlawanan atau kebalikan dari yang diharapkan, seperti dalam frasa "bikhilāfi mā kuntu a‘taqidu" (بِخِلاَفِ مَا كُنْتُ أَعْتَقِدُ), yang bermakna "bertentangan dengan apa yang saya yakini sebelumnya."  

Menariknya, dalam konteks waktu, kata "khilaf" juga digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang datang setelahnya. Contohnya, frasa "ja’a khilāfahu" (جاء خلافه) berarti "datang setelahnya." Ini menunjukkan bahwa kata khilaf tidak selalu bermakna pertentangan, tetapi juga bisa digunakan dalam konteks kronologis.  

Selain dalam makna umum, dalam Mu'jam Al-Ma'ani, khilaf juga memiliki makna khusus dalam ilmu fiqh. Dalam istilah fikih, khilaf merujuk pada perbedaan pendapat yang muncul di antara ulama atau pihak-pihak yang berdebat. Menariknya, dalam diskusi hukum Islam, perbedaan ini tidak selalu harus berlandaskan dalil tertentu. Oleh karena itu, perbedaan dalam hukum fiqh sering disebut sebagai khilaf fiqhi (خلاف فقهي), yang menunjukkan adanya variasi pandangan di antara para ulama dalam memahami suatu hukum.  Ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya makna sebuah kata dalam bahasa Arab, tergantung pada konteks penggunaannya.  

Dari beberapa penjelasan di atas, kalau merujuk kebahasa Indonesia, banyak sekali yang memahami kata tersebut dengan keliru karena rujukannya adalah bahasa Arab, atau juga sebaliknya. Lah, di sinilah pentingnya seorang pembuat kamus bahasa Indonesia untuk memahami bahasa lainnya (selain bahasa Indonesia, asing) yang ketika menyerap bahasa asing tidak terlalu jauh maknanya, atau sekalian dirubah kata-katanya seperti kata "fardhu" (wajib), menjadi "perlu" (penting). 🤩

Allahu'alam bisshawab

Keajaiban Angka dalam Al-Qur’an: I’jaz Ilmi


Halimi Zuhdy

Seringkali saya terpesona dengan angka-angka dalam Al-Qur'an, walau saya sendiri tidak cakap dalam matematik. Nilai raport ketika sekolah dulu yang paling rendah adalah mata pelajaran yang ada hubungannya dengan bilangan atau hitung-menghitung, seperti matematika, fisika, kimia, stistika, ilmu faraid dan lainnya. Nilai tidak pernah sampai 100, paling tinggi 90.wkww. tapi, saya lumayan cakap kalau menghitung uang berwarna merah.wkwkw. 
Saya punya rekan di UIN Malang, beliau dosen matematika, teman-teman menyebutnya dengan Kyai Matematika, Dr. Abdussakir Fadli Kafrawi . Beliau asyik, selain suka tersenyum, juga suka berfikir matematis.wkwkw bukan ekonomis. Beliau selalu mengaitkan ilmu matematika dengan Al-Qur'an, atau Ayat-ayat yang dianalisis dengan ilmu matematika. Dan sering kita membahasa tentang matematika dan bahasal/sastra dalam Qur'an. 

Awalnya saya sering mendengarkan kajian Prof Dr. Abdun Daim Al-Kahil, tentang Al-i'jaz Al-ilmy, mausu'ah al-kahil fi al-ijaz al-ilmi, mausu'ah i'jaz firraqmi, dan lainnya. Kajian beliau banyak di Youtube, Facebook dan lainnya, juga bisa ditemukan di webnya alkaheel7. 

Saya pernah menulis tentang 300 kata dalam Al-Qur'an, bunyi kata yang menggambarkan kata dalam Al-Qur'an, dan tulisan-tulisan ringan lainnya. Ada juga buku "73 Fatwa Cinta" di dalamnya banyak rahasia-rahasia angka dalam Al-Qur'an. Contoh sederhana, ketika Al-Qur'an menyebutkan احد عشر كوكبا maka kalau dihitung tersapat 11 huruf dalam kalimat di atas. Dan banyak sekali kajian-kajian tentang Al-'ada (bilangan, hitungan, matematika) dalam Al-Qir'an. Bisa dibaca; I‘jāz al-‘Adadī fī al-Qur’ān al-Karīm, Al-Raqm wa al-‘Adad fī al-Qur’ān al-Karīm,  ‘Ajā’ib al-I‘jāz al-‘Adadī fī al-Qur’ān,  Nazm al-Ādād fī al-Qur’ān. 

Bilangan terkecil (ash'gharu al-adad) dalam Al-Qur'an adalah 1/10 yang merupakan bilangan pecahan. Terdapat sebanyak 8 bilangan pecahan, yaitu: 2/3, 1/3, 1/2, 1/6, 1/4, 1/8, 1/5, 1/10. Bilangan terbesar( akbar al-adad) adalah 100.000 yang merupakan bilangan asli.  Terdapat 30 bilangan asli di al-Quran, yaitu 1,:2,:3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 19, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 99, 100, 200, 300, 1000, 2000, 3000, 5000, 50000, dan 100000.

 أصغر عدد ذكر في القرآن الكريم: العُشر 0.1 قال تعالى: ﴿وَمَا بَلَغُوا۟ ‌مِعۡشَارَ مَاۤ ءَاتَیۡنَٰهُمۡ﴾ سور_سبأ (45).
 وأكبر عدد: مائة ألف 100000 قال تعالى: ﴿وَأَرۡسَلۡنَٰهُ إِلَىٰ ‌مِا۟ئَةِ ‌أَلۡفٍ أَوۡ یَزِیدُونَ﴾سورة_الصافات (147) 

 Angka-angka yang disebutkan dalam Al-Qur’an bukan sekadar penyebutan bilangan biasa, tetapi memiliki makna mendalam dan sering kali mengandung pesan yang menggugah pemikiran.  

I’jaz (إعجاز) dalam Al-Qur’an mengacu pada keajaiban dan kemukjizatan yang tidak dapat ditandingi oleh manusia. Salah satu bentuk i’jaz ini adalah pola penggunaan angka dalam ayat-ayatnya. Dalam berbagai ayat, Allah menyebutkan angka-angka dengan konteks yang sangat relevan dan penuh hikmah.  

Misalnya; (1) angka 1/10, 1/8,  hingga pecahan lainnya menggambarkan konsep keadilan dan pembagian dalam hukum Islam, seperti dalam warisan dan hukum zakat. (2) angka 7 sering dikaitkan dengan penciptaan langit dan bumi serta keajaiban alam, seperti tujuh lapisan langit (QS. Al-Baqarah: 29) dan tujuh ayat dalam Surah Al-Fatihah.  (3) angka 19 ditemukan dalam hitungan huruf Basmallah dan sistem matematis yang terkait dengan struktur Al-Qur’an.  (4) angka 100, 1000, hingga 100.000 sering dikaitkan dengan konsep pahala, waktu, dan jumlah yang melambangkan kebesaran dan keberkahan, seperti ayat yang menyebutkan malam Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan (QS. Al-Qadr: 3).  

Angka dalam Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai informasi matematis, tetapi juga memiliki pesan moral, sosial, dan spiritual. Misalnya: (1) angka 3 menggambarkan keseimbangan, seperti tiga tahapan penciptaan manusia (nutfah, ‘alaqah, mudghah).  (2) Angka 40 melambangkan masa ujian dan kedewasaan, seperti Nabi Musa yang bermeditasi selama 40 hari di Gunung Sinai (QS. Al-Baqarah: 51). 

Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berisi ajaran spiritual, tetapi juga memiliki sistematika numerik yang luar biasa. Keindahan ini adalah salah satu bukti i’jaz Al-Qur’an yang mengundang umat manusia untuk terus menggali dan memahami lebih dalam pesan yang terkandung di dalamnya. Walau tidak sedikit yang mengkritik terkait dengan ijaz ilmi seperti ini, tapi hal ini menjadi sesuatu pelajaran yang liar biasa. Allahu'lam bisshawab. 

Malang, 7 Februari 2015
Hidup bukanlah matematis, tapi hidup membutuhkan matematika🤩📿

Jumat, 07 Februari 2025

Hewan dalam Al-Qur'an dan Pelajarannya


Halimi Zuhdy

Menarik kitab tentang "Al Hayawat fil Qur'an, min Ayatil I'jaz al-Ilmy" karya Dr. Zaghlul Raghib Muhammad Najhar, terbitan Al-Ma'rifah. 

Dalam bahasa Arab - asal dari kata hewan itu muncul- bahwa manusia juga adalah hewan, hewan itu ada dua; hewan yang berakal (حيوان ناطق) dan hewan yang tidak berakal (حيوان غير ناطق).
Maka, hewan adalah setiap  makhluk yang punya ruh, baik berakal atau tidak.
كل ذي روح من المخلوقات عاقلا أم غير عاقل.
Hewan berasal dari kata hayiya (حيي), hidup, kehidupan, yang hidup. Satu derivasi dengan kata hayah (حياة), kehidupan. Dan kata ini, tergantung penggunaannya. Dalam bahasa Indonesia, kata hewan khusus pada binatang, atau dalam bahasa Inggris adalah animal, yang bermakna "punya nafas", sedangkan dalam bahasa  Sansekerta adalah "satwa" yang bermakna makhluk hidup. 

 Berbeda lagi dengan kata Hayawan (حيوان) dalam Al-Qur'an, yang memiliki banyak penafsiran, di antaranya adalah kehidupan yang abadi.
 
وَمَا هَـٰذِهِ ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۤ إِلَّا لَهۡوࣱ وَلَعِبࣱۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡـَٔاخِرَةَ لَهِیَ ٱلۡحَیَوَانُۚ لَوۡ كَانُوا۟ یَعۡلَمُونَ 

Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (Surat Al-Ankabut: 64).

Hewan dalam penggunaannya dalam bahasa Arab adalah setiap organisme eukariotik (هو كل كائن حي حقيقي النواة) yang termasuk dalam kerajaan animal. Sedangkan Hewan dalam undang-undang (no 41/2014) adalah binatang atau satwa yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di darat, air, dan/atau udara, baik yang dipelihara maupun yang di habitatnya.

Dalam bahasa Jawa hewan adalah kewan, bahasa Madura keben, mirip, dalam satu bentuk kata. Hewan adalah kehidupan. Maka, sesama makhluk hidup harus saling menghargai dan berkasih. 

Bagaimana dengan hewan dalam Al-Qur'an?

Hewan-hewan dalam Al-Qur’an bukan sekadar makhluk hidup, tetapi juga membawa pelajaran bagi manusia. Keberadaan mereka mengingatkan kita akan kebesaran Allah dan pentingnya mengambil hikmah dari setiap ciptaan-Nya.
Dalam Al-Qur'an, banyak hewan disebut sebagai tanda; kebesaran Allah, pelajaran bagi manusia, dan bagian dari kisah para nabi. Setiap hewan memiliki keunikan dan peran tersendiri dalam kehidupan. Maka, hewan yang ada dalam Al-Qur'an bukan hanya sebuah nama atau sebutan saja, tetapi ada banyak pelajaran yang bisa dilirik dan menjadi ibrah dalam lehidupan kita. 

Hewan ternak dianggap sebagai sumber kehidupan, misal unta adalah hewan yang tahan di padang pasir dan disebut dalam Al-Qur’an sebagai bukti kebesaran Allah (QS. Al-Ghashiyah: 17). Sapi menjadi bagian dari kisah Bani Israil (QS. Al-Baqarah: 67-73), sementara domba dan kambing bermanfaat untuk makanan dan pakaian.  

Dalam al-Qur'an, juga hewan sebagai kendaraan seperti; Kuda, Bagal, dan Keledai. Kuda disebut sebagai hewan yang gagah dan digunakan dalam peperangan (QS. Al-Adiyat: 1-5). Bagal dan keledai berguna untuk mengangkut barang (QS. An-Nahl: 8).  

Sedangkan, serigala dan anjing adalah hewan yang berlawanan dalam perannya. Serigala muncul dalam kisah Nabi Yusuf sebagai alasan bohong saudara-saudaranya (QS. Yusuf: 17). Sebaliknya, anjing dalam kisah Ashabul Kahfi setia menjaga pemuda yang tidur di gua (QS. Al-Kahfi: 18).  

Ada juga dalam Al-Qur'an gajah, monyet, dan babi, hewan ini adalah hewan dalam kisah hukuman.  Pasukan bergajah yang hendak menghancurkan Ka’bah dihancurkan oleh burung Ababil (QS. Al-Fil: 1-5). Monyet disebut sebagai hukuman bagi kaum yang melanggar perintah Allah (QS. Al-Baqarah: 65). Sementara itu, babi diharamkan untuk dikonsumsi (QS. Al-Ma'idah: 3).  

Burung dalam kisah NlNabi. Burung hud-hud menjadi pembawa berita bagi Nabi Sulaiman tentang Ratu Saba' (QS. An-Naml: 20-28). Gagak mengajarkan Qabil cara menguburkan Habil setelah membunuhnya (QS. Al-Ma'idah: 31).  

Tidak yang hewan-hewan yang di darat yang diceritakan Al-Qur'an, tapi juga ikan dan katak dalam Mukjizat. Ikan menelan Nabi Yunus sebagai ujian dari Allah (QS. As-Saffat: 139-148). Katak menjadi salah satu azab bagi Fir'aun dan kaumnya (QS. Al-A'raf: 133).  

Ada juga ular sebagai cerita atau kisah dalam mukjizat Nabi Musa. Tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular besar sebagai mukjizat untuk menghadapi sihir Fir’aun (QS. An-Naml: 10). Kalau ular punya cerita sendiri, demikian juga dengan serangga kecil, tapi mengandung pelajaran besar. Seperti lebah yang menghasilkan madu yang bermanfaat (QS. An-Nahl: 68-69). Semut dalam kisah Nabi Sulaiman menunjukkan kecerdasan dengan memperingatkan koloninya akan bahaya (QS. An-Naml: 18-19). Lalat dan nyamuk dijadikan perumpamaan tentang kebesaran Allah (QS. Al-Hajj: 73, QS. Al-Baqarah: 26).  

Laba-laba dan rayap adalah tanda keagungan Allah. Laba-laba dijadikan perumpamaan tentang rumah yang rapuh bagi orang yang tidak bersandar pada Allah (QS. Al-Ankabut: 41). Rayap memakan tongkat Nabi Sulaiman, hingga wafatnya baru diketahui setelah jasadnya jatuh (QS. Saba: 14).  

Dalam Fawaid Al-Qur'aniyah. Bahwa terdapat 26 jenis hewan yang disebutkan dalam Al-Qur'an, yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Berikut adalah daftar hewan-hewan tersebut beserta keistimewaannya; hewan ternak (Al-An'am) ada 4 Jenis; Unta (الإبل) Disebut dalam Al-Qur'an sebagai bukti kekuasaan Allah (QS. Al-Ghashiyah: 17). Unta memiliki keistimewaan dapat bertahan tanpa air selama berhari-hari di gurun.  Sapi (البقر)– Memiliki nilai ekonomi tinggi dan disebut dalam Surah Al-Baqarah sebagai bagian dari kisah Bani Israil. Domba (الضأن) & Kambing (الماعز) – Hewan yang banyak dimanfaatkan manusia untuk daging, susu, dan bulu.  Dan seterusnya. 

Sedang hewan berkaki empat untuk transportasi – 3 Jenis; kuda (الخيل) – Disebut dalam QS. An-Nahl: 8 sebagai hewan yang digunakan untuk perjalanan dan peperangan.  Bagal (البغال) & Keledai (الحمير) – Bagal adalah hasil persilangan kuda dan keledai yang kuat untuk mengangkut beban berat.  

Untuk melengkapi keterangan di atas, sedangkan hewan buas ada 2 Jenis; Serigala (الذئب) dan Anjing (الكلب). Ada pula Hewan liar lainnya, gajah (الفيل)– Disebut dalam QS. Al-Fil, tentang pasukan bergajah yang ingin menghancurkan Ka'bah tetapi dihancurkan Allah dengan burung Ababil.  Ini sudah dijelaskan di atas. Monyet (القرد) dan juga Blbabi (الخنزير)

Dalam Al-Qur'an Burung ada  2 Jenis;  Hud-hud (الهدهد) dan Gagak (الغراب) kisah tentang gagak mengajarkan Qabil cara menguburkan jenazah saudaranya, Habil.  

Hewan-hewan yang ada satu jenis, yang disebutkan dalam Al Quran, ada Ikan (الحوت). Hewan amfibi satu 1 Jenis; katak (الضفدع. Hewan melata ular (الثعبان). Sesangkan serangga tersadapat 9 Jenis;  Lebah (النحل), semut (النمل), belalang (الجراد), upu-kupu (الفراش), kutu (القمل), lalat (الذباب), nyamuk (البعوضة), laba-laba (العنكبوت), rayap (دابة الأرض). Semuanya punya kisah indah penuh ibrah, dan merupakan tanda-tanda kebesaran Allah.

Allahu'alam bishawab.